Posts Tagged surat

Surat dari Dhilah

Posted on Wednesday, May 30th, 2012 at 4:37 pm

Coiners dan droppers masih ingat Dhilah? Hari ini kita semua mendapatkan surat dari adik kita yang pandai dan bersemangat ini, lho. Ini suratnya:

Sebelum kumulai cerita ini, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Coin a Chance!, terutama Ibu Anggi yang “menemukan” aku, karena telah membantuku membiayai sekolahku sehingga aku bisa lulus. Cerita ini dimulai saat aku lulus SMP. Aku yang memang bercita-cita menjadi teknisi kesehatan, mendaftar dan diterima di SMK Farmasi DITKESAD. Saat itu, keuangan keluargaku mencukupi untuk membiayai sekolah di sana. Ayahku adalah seorang wirausahawan yang cukup sukses di bidang distribusi minuman. Namun semenjak salah seorang supir ayahku menipu dan mengambil pelanggan-pelanggan ayahku, lama-kelamaan bisnis ayahku mulai sepi. Ayahku memutuskan untuk menjual mobil untuk menutupi kerugian. Di saat yang bersamaan, ruko kontrakan yang kami tinggali selama ini, dinaikkan harga sewanya menjadi dua kali lipat harga semula. Kami pun pindah. Ruko yang dulu kami tempati, disewa oleh wirausahawan yang membuka usaha di bidang yang sama dengan ayahku. Para pelanggan ayahku mengira bahwa ayahkulah yang menjalankan toko tersebut. Mereka beralih ke toko tersebut. Di toko yang baru, tidak banyak pelanggan lama yang datang. Keuangan kami waktu itu tidak cukup untuk membiayai kehidupan kami, termasuk biaya sekolahku, membuat orang tuaku menjual tanah. Uang hasil jual tanah tersebut dijadikan modal untuk berjualan gas. Naasnya, semua barang yang telah dibeli, digasak habis oleh pencuri. Perasaanku kacau. Ibuku bingung dan menangis. Tetapi ayahku tetap tegar. Beliau memberhentikan karyawannya untuk mengurangi pengeluaran. Untuk modal berjualan, ayahku menjual mobil. Beliau yang selama ini menjadi bos dan jarang melakukan pekerjaan berat, kini mendorong gerobak berisi gas dan minuman dalam kemasan. Rasanya sedih melihat ayahku yang sudah tidak muda lagi mendorong gerobak. Di waktu senggang, aku dan adikku membantu ayahku mengirim barang orderan. Jika sedang tidak ada orderan, ayahku bekerja menjadi buruh bangunan di suatu proyek. Di saat yang sama, aku harus belajar untuk membanggakan kedua orang tuaku yang terus berjuang untuk kami, anaknya. Tentang sekolah, banyak hal yang aku pelajari di sekolah. Bukan hanya tentang ilmu eksak. Tetapi cara berorganisasi, kebersamaan, kerja keras, persahabatan, dan juga loyalitas. Aku senang sekali bersekolah di SMK Farmasi DITKESAD. Semuanya berjalan baik, sampai aku berada di tingkat XII. Orang tuaku mulai tidak sanggup membiayai sekolahku. Berbagai cara mereka lakukan, dari mulai menjual TV, kulkas, dan AC untuk membiayai sekolahku dan kedua adikku yang masih di tingkat SMP dan TK. Tetap saja, tunggakan SPP masih tersisa. Dalam keadaan putus asa, ibuku berusaha meminjam uang kepada teman-temannya. Tetapi, tidak ada yang mau membantu kami. Saat aku naik kelas tiga, guruku menginformasikan bagi yang belum melunasi tunggakan tidak mendapatkan kelas. Aku bingung dan amat sedih. Aku berpikir, “Apakah aku akan selesai sekolah sampai sini saja? Sebagai seseorang yang tidak tamat SMK?”. Kemudian datanglah saat itu. Awalnya, ibuku hanya bercerita saja kepada seorang teman lama, Ibu Ida, tentang kehidupan keluarga kami sekarang. Lalu, ibuku menangis saat bercerita tentang keadaanku yang tidak mendapatkan kelas. Beberapa hari kemudian, Ibu Ida memberitahu kami bahwa ada yang akan membantu menyekolahkanku. Kata Ibu Ida, beliau hanya posting ceritaku di jejaring sosial. Ternyata ada yang merespon dengan baik. Beberapa hari setelah informasi dari Ibu Ida, ibuku mendapat telepon dari Ibu Anggi Coin a Chance!. Lalu, ibuku menceritakan permasalahanku. Setelahnya, Ibu Anggi datang ke sekolahku dan membayarkan tunggakanku. Hanya satu kata yang terucap, “Alhamdulillah!”. Saat itu, semua perasaan bahagia dan lega terkumpul di keluarga kami. Kini, aku harus terus berjuang menggapai cita-citaku menjadi dokter. Demi ayahku, ibuku, keluargaku, guru-guruku, orang-orang yang memberiku semangat, yang berjuang untukku dan orang-orang yang telah membantuku bersekolah lagi. Termasuk Coin a Chance!. Terima kasih banyak, Coin a Chance! Aku bisa bersekolah lagi. Terima kasih banyak, Coin a Chance! karena telah menyambung mimpiku kembali. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian. Nur Fadhilah F.

Surat dari Gempur, Lagi.

Posted on Thursday, August 27th, 2009 at 12:08 pm

Coiners, Ada surat lagi nih dari Gempur, menceritakan waktu dia orientasi SMP 🙂 Iya, berkat Coiners kan Gempur bisa lanjut sekolah ke SMP!

Namaku Bintang Gempur Anarki. Di rumah aku biasa dipanggil Bintang, tetapi teman-teman dan guru di sekolah memanggilku Gempur. Aku lahir di Tangerang pada tanggal 14 April 1997. Aku sekolah di SDN Serua IV tetapi sekarang aku sudah lulus. Aku mendaftarkan diri ke sekolah SMPN 2 Pamulang tetapi sekarang diganti namanya menjadi SMPN 9 Tangerang Selatan. Setelah mengikuti pendaftaran kolektif aku dinyatakan diterima, karena NEMku cukup untuk masuk ke SMPN. Setelah masa liburan selesai aku masuk ke sekolahku yang baru. Semua siswa baru SMP itu harus menjalani mobis (masa bimbingan siswa) yang dibina oleh kakak kelas. Selama tiga hari aku harus menjalani Mobis. Hari pertama memakai topi dari pot plastik, ikat pinggang dari permen, tas dari karung terigu, dan banyak makanan yang harus dibawa dan semua itu harus diapakai dari rumah. Dan aku sekarang duduk di kelas VII dan aku harus belajar lebih giat lagi mengurangi waktu mainku. Hobiku adalah bermain sepak bola. Terima kasih Coin A Chance yang telah membiayaiku membayar uang sekolah.

Iya, makasih, Coinersss!

Surat dari Gempur

Posted on Thursday, May 28th, 2009 at 6:01 pm

Di bawah ini adalah surat yang ditulis Gempur Bintang Anarki, penerima kesempatan pertama dari CaC untuk melanjutkan sekolah (sebagian kesalahan tanda baca dan EYD sudah diperbaiki, tanpa mengubah isi dan substansi dari surat yang diberikan): picture-6 Namaku Bintang Gempur Anarki. Di rumah aku biasa dipanggil teman-teman Bintang, tetapi di sekolah aku dipanggil Gempur. Aku dilahirkan di Tangerang tepatnya pada tanggal 14 April 1997. Genap berusia 6 tahun aku mulai masuk SD, yaitu SDN Serua IV tidak jauh dari rumahku. Orangtuaku tidak memasukkan ke sekolah Taman Kanak-kanak. Karena biaya masuk TK besar. Aku sudah pandai menulis dan membaca sebelum aku masuk SD karena ibuku rajin mengajariku belajar setiap harinya. Setiap tahun aku naik kelas dan sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 6. Aku harus sudah mulai giat dan lebih rajin lagi belajar karena aku akan menghadapi ujian akhir sekolah. Aku mulai mengurangi kegiatanku sehari-hari seperti hobiku bermain bola dan mengurangi latihan silat. Sebelum menghadapi ujian, sekolah mengadakan try out yang dilaksanakan di sekolahku sendiri, dan juga try out gabungan antar sekolah di sekolah sekitar sekolahku. Setelah try out sekolah mengadakan ujian praktek seperti praktek olahraga dan praktek agama. Setelah semua selesai, tepatnya pada tanggal 11-12-13 Mei 2009, dilaksanakan Ujian Akhir Sekolah Berskala Nasional, biasa disingkat UASBN. Sebelum menghadapi ujian, aku belajar sungguh-sungguh dan berdoa kepada Allah agar aku dapat menjawab soal-soal ujian dengan baik dan benar. Belajar, belajar, dan belajar yang aku lakukan di saat aku menghadapi ujian. Ibuku selalu memberi semangat dan doa supaya aku mudah menghadapi ujian. Seminggu sudah aku melaksanakan ujian sekolah. Perasaan tegang dan takut sudah aku lalui. Sekolah lalu mengadakan piknik ke Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Ibu guru, aku, dan teman-teman bergembira menikmati pemandangan dan mengelilingi waduk dengan naik perahu. Try out, praktek ujian, ujian sekolah, dan piknik sudah aku lewati hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusanku. Ada satu yang tidak pernah aku lupakan, yaitu kebaikan Mbak Nia dan Coin A Chance-nya. Mereka telah membantu semua biaya sekolahku hingga beban orangtuaku berkurang. Terima kasih, Mbak Nia. Hanya Allah yang akan membalas semua kebaikan Mbak Nia. Terima kasih Coin A Chance, semoga sukses.