Posts Tagged pendidikan

Bantu Tya Dapetin Sertifikat, Yuk!

Posted on Thursday, October 7th, 2010 at 4:46 pm

Update: Saat ini kita sudah menyalurkan dana dari celengan CaC! untuk melunasi sertifikat Tya. Sekarang sedang dalam proses cek ulang ke sekolah dan mengurus administrasinya. Terima kasih banyak bagi yang sudah merespon dan juga bagi mereka yang khusus hendak memberikan bantuan untuk Tya.^^ We love you, Coiners! Mari kirim lebih banyak anak-anak ke sekolah! Collect your coins! ๐Ÿ™‚ +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Kemarin sore, ketika langit gelap dan nyaris dilanda badai, seorang ibu mampir ke kantor Maverick. Namanya Ibu Eni, usianya sekitar empat puluh tahun. Anak sulung Ibu Eni, namanya Tya. Tya sudah lulus dari sebuah SMK pariwisata, bahkan sudah magang di sebuah hotel bintang lima. Ia juga sudah memasuki wawancara tahap final di gerai donat dan gerai kopi terkemuka. Tetapi masalahnya: Tya tidak punya sertifikat kelulusan—yang masih menjadi prasyarat dalam penerimaan pekerjaan. Ibu Eni tidak sanggup melunasi biaya pendidikan dan ujian Tya, sehingga sertifikatnya masih ditahan oleh pihak sekolah hingga saat ini. Padahal Tya sendiri ingin sekali cepat bekerja agar dapat membantu keluarganya. screen-shot-2010-10-07-at-44214-pm Suatu hari, Ibu Eni yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini, melihat tabloid NOVA di rumah majikannya. Ketika membuka-buka tabloid tersebut, Ibu Eni sampai pada halaman yang membahas mengenai Coin a Chance!. Ibu Eni berpikir, ada lagi harapan baru untuk menebus sertifikat Tya. Sebelumnya, Ibu Eni sudah sempat mendatangi beberapa organisasi besar untuk meminta bantuan, namun belum juga berhasil. Maka Ibu Eni pun minta ijin pada majikannya untuk meminjam tabloid tersebut. Sayang, hal ini tak diijinkan. Ibu Eni pun mencatat hal-hal yang diperlukannya dari tabloid NOVA, lalu pergi ke lapak koran untuk mencari tabloid tersebut—yang memang sudah merupakan edisi lama. Karena tidak menemukannya, maka Ibu Eni mencatat alamat kantor redaksi tabloid NOVA, dan datang ke sana. Ia mencari jurnalis yang menulis mengenai CaC! dan memohon diberikan kontak agar bisa bertemu langsung dengan CaC!. Dari jurnalis itulah Ibu Eni mendapatkan alamat kantor Maverick—tempat saya dan Nia bekerja. Dan demikianlah kami dipertemukan. Ibu Eni datang membawa laporan nilai-nilai dan laporan magang Tya. Semua nilai-nilainya bagus, 8 dan 9. Tya juga bisa berbahasa Inggris dan bahasa Jepang. Ia sempat juga magang menjadi barista dan bisa membuat capucinno dengan hiasan-hiasan cantik. “Masalahnya itu, dia nggak bisa diterima kerja karena sertifikatnya nggak ada, Kak,” kata Ibu Eni. “Saya suka kasihan, dia kalau pulang habis wawancara suka ngelamun sendiri, karena semuanya bilang harus ada sertifikat…” Tunggakan biaya sekolah Tya adalah sekitar 1 juta rupiah (tadi baru masuk tagihan lain dari sekolah, ternyata sampai 3 juta rupiah seluruhnya, 1 juta rupiah ini hanya untuk biaya uji kompetensi). Dengan melunasi tunggakan ini, barulah sertifikat kelulusan Tya bisa dikeluarkan. “Saya tau, Tya pasti mimpi bisa kuliah, tapi mau bilang apa, saya nggak sanggup. Kasihan juga, padahal nilainya bagus. Tapi dia bilang dia mau kerja saja biar bisa bantu-bantu.” screen-shot-2010-10-07-at-44455-pm Ayah Tya saat ini bekerja sebagai tenaga lepasan di pelabuhan. Kerjanya serabutan. Apa saja yang bisa dikerjakan, ya dikerjakan. Ini membuat penghasilan keluarga Tya tak tentu. Dalam sebulan terkadang hanya bisa pulang membawa 200 – 300 ribu rupiah. Ibu Eni sendiri bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dulu, Ibu Eni bekerja di tiga rumah sekaligus, demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi belakangan Ibu Eni menguranginya menjadi satu rumah saja. “Saya nggak kuat, badan hancur juga lama-lama. Soalnya anak kedua saya, Sidiq, autis. Jadi saya harus kasih perhatian lebih. Kadang dia juga nggak tidur semalaman, saya juga ikut jaga dia.” Dari penghasilan sebagai pembantu rumah tangga, Ibu Eni biasa membawa pulang 300 ribu rupiah setiap bulannya. Saat ini Sidiq tidak bersekolah. “Biaya sekolahnya yang untuk anak autis 1 juta sebulan,” kata Ibu Eni. “Saya nggak sanggup.” Selain Tya dan Sidiq, ada juga si kecil Fandi yang masih duduk di kelas 5 SD. “Untuk Fandi alhamdulillah sekolahnya gratis, paling butuh biaya seragam dan buku. Kalau buku biasanya masih bisa fotokopi, masih bisa kami sisihkan buat dia.” Dalam kondisinya yang sedemikian, Ibu Eni juga masih punya seorang anak angkat. Namanya Bayu. “Dulu ada tetangga di sebelah rumah melahirkan. Lalu suatu hari dia datang, katanya dia mau kerja dan mau titipin anaknya di rumah. Ternyata sampai sekarang anaknya nggak diambil lagi. Sampai sudah 5 tahun. Tapi ya, saya nggak tega, kan. Sudah saya anggap anak sendiri juga, dari kecil sama saya, dia taunya saya ibunya.” Ada satu percakapan sore itu yang membuat kami belajar banyak. Belajar bersyukur. Belajar menerima. Belajar sabar.

“Pasti repot ya, Bu, sambil mengurus anak yang autis juga, kerja juga…” “Nggak repot, kok, Kak Hanny, Kak Nia,” ujar Ibu Eni. “Justru bersyukur, saya dipercaya dititipi anak yang seperti ini. Saya seneng aja ngerawatnya.”

Kawan-kawan, kita bantu Tya lewat CaC!, ya. Supaya Tya bisa segera mendapatkan sertifikatnya untuk bekerja ๐Ÿ™‚