Posts Tagged gempur

Surat dari Gempur

Posted on Thursday, May 28th, 2009 at 6:01 pm

Di bawah ini adalah surat yang ditulis Gempur Bintang Anarki, penerima kesempatan pertama dari CaC untuk melanjutkan sekolah (sebagian kesalahan tanda baca dan EYD sudah diperbaiki, tanpa mengubah isi dan substansi dari surat yang diberikan): picture-6 Namaku Bintang Gempur Anarki. Di rumah aku biasa dipanggil teman-teman Bintang, tetapi di sekolah aku dipanggil Gempur. Aku dilahirkan di Tangerang tepatnya pada tanggal 14 April 1997. Genap berusia 6 tahun aku mulai masuk SD, yaitu SDN Serua IV tidak jauh dari rumahku. Orangtuaku tidak memasukkan ke sekolah Taman Kanak-kanak. Karena biaya masuk TK besar. Aku sudah pandai menulis dan membaca sebelum aku masuk SD karena ibuku rajin mengajariku belajar setiap harinya. Setiap tahun aku naik kelas dan sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 6. Aku harus sudah mulai giat dan lebih rajin lagi belajar karena aku akan menghadapi ujian akhir sekolah. Aku mulai mengurangi kegiatanku sehari-hari seperti hobiku bermain bola dan mengurangi latihan silat. Sebelum menghadapi ujian, sekolah mengadakan try out yang dilaksanakan di sekolahku sendiri, dan juga try out gabungan antar sekolah di sekolah sekitar sekolahku. Setelah try out sekolah mengadakan ujian praktek seperti praktek olahraga dan praktek agama. Setelah semua selesai, tepatnya pada tanggal 11-12-13 Mei 2009, dilaksanakan Ujian Akhir Sekolah Berskala Nasional, biasa disingkat UASBN. Sebelum menghadapi ujian, aku belajar sungguh-sungguh dan berdoa kepada Allah agar aku dapat menjawab soal-soal ujian dengan baik dan benar. Belajar, belajar, dan belajar yang aku lakukan di saat aku menghadapi ujian. Ibuku selalu memberi semangat dan doa supaya aku mudah menghadapi ujian. Seminggu sudah aku melaksanakan ujian sekolah. Perasaan tegang dan takut sudah aku lalui. Sekolah lalu mengadakan piknik ke Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Ibu guru, aku, dan teman-teman bergembira menikmati pemandangan dan mengelilingi waduk dengan naik perahu. Try out, praktek ujian, ujian sekolah, dan piknik sudah aku lewati hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusanku. Ada satu yang tidak pernah aku lupakan, yaitu kebaikan Mbak Nia dan Coin A Chance-nya. Mereka telah membantu semua biaya sekolahku hingga beban orangtuaku berkurang. Terima kasih, Mbak Nia. Hanya Allah yang akan membalas semua kebaikan Mbak Nia. Terima kasih Coin A Chance, semoga sukses.

Panci dari Pamulang

Posted on Monday, May 18th, 2009 at 3:42 pm

“Mbak Niaa! Mbak Niaaa!” Itulah yang saya dengar pagi ini saat sedang bersiap-siap menuju tempat bazaar. Kebetulan Coin A Chance! Diberikan satu stand gratis di acara bazaar yang diadakan oleh Garuda Food dalam rangka hari anak dan pendidikan nasional. Belum sempat saya keluar, si pemilik suara itu sudah berdiri di depan kamar saya sambil memegang sebuah panci, lengkap dengan tutupnya. Mulut saya pun terbuka lebar, “apa yang sudah saya lakukan?” tanya saya dalam hati sambil berusaha mengingat-ingat kegiatan saya kemarin. Seingat saya, saya tidak melakukan kesalahan apapun yang merugikan panci-panci ataupun peralatan dapur lainnya. “Apaan sih?” tanya saya kepada kakak saya, si pemilik suara yang masih berdiri di depan pintu. Sambil membuka tutup panci dia menjelaskan “ini masakan ayam dari keluarganya Gempur. Katanya buat Mbak Nia dan teman-temannya. Sekedar ngucapin terima kasih.” Saya sangat terharu dan berterima kasih atas niat baik mereka. Namun tetap saja yang ada dalam benak saya saat itu adalah, kenapa tidak untuk keluarga mereka saja, pasti anak-anaknya akan sangat senang. ayam-1 Kakak saya menjelaskan lagi bahwa mereka sudah berniat memberikannya sejak lama, namun ayam kampung yang akan dimasak itu tiba-tiba kabur. Maklum, ayam kampung peliharaan sendiri. Sepertinya si ayam paham betul kalau hidupnya akan segera dikorbankan… ayam-2 Saya ingat ayahnya Gempur memang pernah bilang akan memasak ayam kampung untuk saya dan teman-teman. Tapi saat itu saya juga sudah menyatakan rasa terima kasih dan menganjurkan supaya dimasak untuk keluarganya saja. Anggap saja traktiran untuk keluarganya sendiri. Begitulah pembicaraan itu berakhir… tidak terpikir oleh saya bahwa beliau tetap menjalankan niatnya. Masakan itu saya terima, dengan rasa haru yang mendalam tentunya. Dan dengan bantuan Ibu saya, ayam itu dimasak kembali (Ibunya Gempur sengaja memberikan dalam keadaan setengah masak). Setelah betul-betul matang, ayam itu pun dibagi dua, setengahnya dibungkus untuk saya antarkan ke Hanny. Sebelum saya berangkat, saya sempat menanyakan kepada kakak saya, “pancinya punya siapa?”. “Bapak (ayahnya Gempur). Tadi dia bawa langsung dari Pamulang sudah begitu,” jawabnya sambil meyodorkan ke saya panci yang sudah dicuci bersih tersebut.

“Mobil kok lewat sawah, Pur?”

Posted on Thursday, April 30th, 2009 at 11:24 am

Minggu lalu, saya dan Nia meluncur dari FX, kami menengok Gempur dan keluarganya di Serua, Pamulang. Kami ingin tahu kondisi terakhir dari Gempur dan keluarganya, sekaligus melihat kemungkinan pemberian bantuan untuk Inti, kakak lelaki Gempur yang juga menunggak uang sekolah. Mengendarai Suzuki Cross Over milik salah satu coiner, Hafni Chen, yang berbaik hati menawarkan mobilnya untuk digunakan, kami membelah panasnya Jakarta menuju daerah Pamulang. Jalanan relatif lancar siang itu, kami mengambil rute FX – Jl. Asia Afrika – Jl. Radio Dalam – Jl. Arteri Pondok Indah – Lebak Bulus. Setelah melewati terminal Lebak Bulus kami belok kiri ke arah Pondok Cabe. Mulai memasuki Lebak Bulus, cuaca yang tadinya cerah berubah mendung dan kemudian gerimis pun turun. Tak lama hujan lebat menyambut kami tepat saat kami melewati lapangan udara Pondok Cabe. menuju-rumah-gempurHampir 2 jam berlalu sejak kami meninggalkan FX, lalu kami mulai memasuki jalanan penuh tantangan… tanya kenapa? 😛 Jalanannya mulai berselang seling dari aspal licin ke bebatuan, sehingga mengharuskan kami untuk berkendara perlahan menghindari lubang dan genangan air. Banyaknya angkot juga mengharuskan kami untuk lebih sering mengerem, karena seringnya mereka berhenti mendadak. Tidak lama kami tiba di depan mushola biru dan kami tinggalkan mobil di sana. Kami berjalan menuju rumah gempur, kurang lebih 50 meter melewati basahnya tanah merah di bawah derasnya hujan. Kami lihat seorang gadis kecil berdiri di depan pintu, ia pun segera masuk ke dalam sesaat dia melihat kami. Rumah Gempur dan keluarganya teramat sederhana (baca: sedikit kumuh), bagian teras masih berlantai tanah merah. Ada sebuah kursi kayu beralaskan duduk rotan yang sudah terlihat reot, di sebelahnya ada tumpukan besi dan kayu bekas. Rumah berdinding semi permanen ini dibangun berdempetan dengan rumah berikutnya, lebih mirip rumah petak. Begitu kami memasuki pintu, kami disambut wanita kurus berusia hampir 40 tahun-an, berpakaian lusuh – kaos dan celana pendek yang warnanya pudar. “Itu Ibu Gempur,” kata Nia, dia menyambut kami dengan senyum sumringah. “Eh Mbak-Mbak, mari silakan masuk. Ayo Gempur, Rara, Prima salam sama Mbaknya,” katanya. Sesaat mataku menjelajah ke seluruh penjuru ruangan, sumpek, agak gelap, ruangan memanjang ke belakang ini paling berukuran hanya 5 x 10 meter saja, tanpa sekat sama sekali, lantainya hanya semen dan beratap asbes. Kami bayangkan betapa panasnya saat sinar matahari terik melanda, untungnya siang itu hujan jadi hawa sedikit dingin. Kulihat seorang anak lelaki kurus berkulit gelap menghampiri, kuangkat tanganku, ia menggapainya dan menciumnya, “Gempur…” suaranya lirih menyebut namanya sendiri. Lalu kulihat dua anak lainnya, gadis kecil yang kulihat sebelumnya kini menghampiri, Rara namanya, melakukan hal yang sama seperti yang Gempur lakukan. Kemudian seorang balita, Prima, menghampiri kami sambil meniru gerakan kedua kakaknya. Kami duduk di atas dinginnya semen, tepat di belakang tempatku duduk, seonggok kasur lusuh menyender ke dinding, cuma satu buah. Dalam hati aku berujar,”mana cukup untuk berenam, pasti ada yang harus tidur di atas dinginnya semen, entah siapa.” Lalu kami berbincang menanyakan kabar keluarga tersebut, soal keadaan sehari-hari, sekolah Gempur dan adik serta kakaknya, Inti. Sebenarnya keluarga ini punya satu anak lelaki lagi, anak pertama mereka. Dia sudah tidak lagi tinggal di rumah itu, “Ikut kerja sama pamannya,” kata Ibu Gempur. Kakak pertama Gempur inilah satu-satunya anak di keluarga ini yang terpaksa putus sekolah saat ia duduk di kelas 3 SMP, tidak bisa ikut ujian akhir karena menunggak bayaran lebih dari satu tahun. Dalam hati aku berkata, “Andai CaC berdiri jauh sebelum sekarang, dia pasti bisa melanjutkan ke SMA.” gempur-adik-2Sambil mendengar cerita Ibu Gempur, aku mengamati Gempur dan kedua adiknya bermain, sedangkan Inti setelah bangun tidur tadi dan menyalami kami, ia memilih duduk dipojok menyembunyikan dirinya, entah kenapa… Mereka main bersama dengan asyiknya, walaupun hanya menggunakan permainan seadanya. Lalu aku bertanya pada Gempur, “Pur, sebentar lagi kan ujian, kalau lulus kamu mau lanjutin ke SMP ga?” Ia menjawab lirih, malu, “Mau”. Aku bertanya kembali ke SMP mana ia mau melanjutkan sekolahnya dan Gempur bilang ia mau sekolah di SMP Negeri Dolang (baca: Dua Pamulang). Ibu Gempur pun menjelaskan lebih banyak mengenai SMP tersebut, bahwa tahun lalu untuk masuk ke SMP itu dikenakan uang pangkal sebesar Rp 3 juta. “Mmmmhhh angka yang besar bagi keluarga ini,” gumamku. Tak lama aku bertanya dimana letak SMP Negeri Dolang ini, lalu Ibu Gempur menanggapi bahwa kami harus melewati jalan besar yang agak jauh dari sini, mungkin sekitar 1,5 km. Lalu ia memastikan pada Gempur, “Pur, gimana jalannya?” Dengan gesit Gempur menjawab, “Lewat belakang sini cepet, Bu. Nyebrang sawah dulu…” Aku dan Nia bertatapan, lalu tertawa keras. Ibu Gempur menyadari apa yang kami tertawakan, lalu setengah malu berkata pada Gempur, ” Masa mobil lewat sawah, Pur? Gimana kamu ini!”. Gempur pun kebingungan, tersadar akan ucapan sang Ibu ia hanya bisa tertunduk malu… “Betapa polosnya anak ini,” tawaku dalam hati. Perbincangan pun berlanjut ke hobi dan cita-cita Gempur. Ia senang sekali main sepak bola dan itu pun yang membawa ia memiliki cita-cita sebagai pemain bola. “Aku ingin bisa main di klub bola FC Barcelona!” kata Gempur. Waktu ditanya siapa pemain sepak bola kesukaannya di FC Barcelona, Gempur menjawab antusias, “Lionel Messi…” Tanpa mau membunuh cita-cita Gempur, aku bertanya seyakin apa ia bisa mencapai cita-cita itu. Aku ingin ia berpikir realistis, tentu selain niat banyak sekali jalan yang harus ia perjuangkan untuk bisa menjadi pemain sepak bola kelas dunia. Kemudian aku kembali menekankan, bila ia harus yakin dan punya jalan agar bisa menjadi pemain bola seperti Lionel Messi. Lalu aku pancing Gempur, “Kalau tidak bisa jadi pemain bola di FC Barcelona, kamu mau jadi apa?”. Setelah berpikir sebentar, ia menjawab “Mau jadi pengusaha bola”. Kami semua tersenyum bangga… Kunjungan singkat siang itu telah membawa aku ke sebuah dunia yang berbeda. Dunia penuh keterbatasan bagi seorang anak sekecil Gempur tapi tetap dapat kulihat semangat di mata kecilnya. Mungkin ia belum bisa membayangkan betapa sulitnya untuk mencapai cita-citanya itu, tapi biarlah… dia akan tahu sendiri nanti. Namun yang jelas, terlepas dari usianya yang masih dini, ia masih punya mimpi. Mimpi memacu kita untuk dapat mengarungi kerasnya hidup dan dari mimpi sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin…

He didn’t deserve that!

Posted on Saturday, April 11th, 2009 at 6:11 pm

Saya mendengar tentang musibah ini kemarin.

Baru saja saya berencana mengunjungi warung ayahnya Gempur untuk menanyakan kabar anak-anaknya. Apalagi karena Coin A Chance! berencana membantu kakak Gempur, Inti, yang uang sekolahnya juga sudah menunggak hampir dua tahun.

Tiba-tiba kakak perempuan saya menghampiri saya dan bilang “warung bapak dirampok orang. kacanya dipecahin, dagangan rokoknya dicuri, gembok pintunya dirusak”.

Saya betul-betul tidak tahu harus berkata apa. Niat saya ingin mengambil foto sebagai bukti pada saat saya berbagi kabar sedih ini dengan teman-teman yang lain, terutama Hanny. Tapi ketika saya lewat di depan warung itu, saya tidak sanggup berbuat apa-apa. Apalagi memotret.

What keeps running through my head is.. how could anybody do such thing? Robbing from the poor? Has this city become so unbelievably cruel that its people start to lose their conscious? My God..

He’s just trying to get through yet another day.. I dont even have the heart to say ‘make a living’ knowing how much he earns.

Jahat banget! The lowest kind of all criminals!

Uang Sekolah Gempur Sudah Lunas!

Posted on Wednesday, March 18th, 2009 at 3:38 pm

Ini semua tentu berkat bantuan teman-teman semua. Sabtu lalu, kami sudah datang ke rumah dan sekolah Gempur untuk melunasi uang sekolahnya yang belum lunas. Kami sempat bertanya, “Gempur, malu nggak kalau bayar uang sekolahnya pakai wali kelasnya yang paling saya dan Nia ingat: “Gempur itu pinter, nilainya bagus. Cuma dia sering nggak ngerjain PR dan nggak bisa ngumpulin tugas. Walaupun kami ngerti, dia bukannya malas, tapi memang nggak mampu beli bukunya…” Kata-kata ini punya bekas yang luar biasa buat kami yang mendengarnya. Bayangkan jika anak sepandai Gempur ditunjang dengan fasilitas pendidikan yang baik, tentu dia akan bisa melanjutkan sekolah dan meningkatkan prestasinya dengan buku-buku dan peralatan sekolah yang memadai. “Saya nggak nyangka kalau dari koin ini bisa terkumpul sebegini banyak,” ujar wali kelas Gempur saat itu. “Terima kasih banyak.” Sekalian melunasi uang sekolah Gempur, kami juga membelikan buku-buku untuk Gempur. Soalnya sebentar lagi dia akan ujian akhir, dan dia belum punya buku untuk belajar. Jadi sekarang Gempur sudah berjanji dia akan belajar giat supaya bisa masuk ke SMP negeri dengan beasiswa. Seluruh biaya membantu Gempur totalnya adalah Rp. 700rb rupiah. Terima kasih banyak kepada kawan-kawan semua yang sudah membantu Gempur dan memastikan ia bisa ikut ujian, bisa belajar, dan bisa meneruskan cita-citanya melanjutkan ibunya Gempur berkaca-kaca dan berkata,”Ini cuma koin, tapi bisa membuat Gempur melanjutkan sekolah…”