The Beginning

Posted on Wednesday, December 17th, 2008 at 2:00 am

“Ni, lo suka ngumpulin koin, nggak?”

Itulah awal Coin A Chance! – ketika pada suatu hari, nyaris setahun yang lalu,ย  saya menunjukkan kaleng Winnie-The-Pooh saya kepada kawan saya, Nia. Kaleng berwarna biru muda itu telah hampir penuh terisi kepingan-kepingan uang logam 100, 200, 500, hingga 1000-an.

Pada momen itulah, saya mengetahui bahwa Nia ternyata memiliki kebiasaan yang sama dengan saya: mengumpulkan uang logam yang kami dapatkan sebagai kembalian.

Sambil mengobrol di pojokan kami yang nyaman di bawah tangga, kami pun berpikir, akan dikemanakan koin-koin logam ini. Lalu kami bertanya, ada berapa banyak koin-koin yangย  berceceran di luar sana, disimpan, dan tidak dibelanjakan? Bagaimana kalau kami kemudian mengumpulkan koin-koin tersebut dan menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan?

Berhubung saya dan Nia sama-sama menganggap bahwa sekolah dan pendidikan itu penting, maka kami berpikir, alangkah menyenangkannya bila koin-koin tersebut bisa memberikan ‘kesempatan’ pada seorang anak yang kurang mampu, sehingga ia bisa sekolah lagi. Misalnya, dengan melunasi uang sekolahnya, membelikan buku tulis, seragam…

Bukankah semua dimulai dari satu, lalu dua, lalu tiga…?

Ide ini pun sempat mengendap selama kurang lebih satu tahun, hingga akhirnya kemarin (16/12), di Wendy’s, sambil menyesap Frosty, Nia mengingatkan saya kembali mengenai niatan kami ini. Dan kami pun memutuskan bahwa kami harus menjalankan gerakan ini, no matter what. Let’s start small. Kami akan mulai dari diri sendiri, kawan-kawan, kerabat, keluarga terdekat… dan lihat apa yang bisa kami dapatkan dari situ.

Karena, kata motivator terkenal Mario Teguh, Anda tidak dinilai dari apa yang Anda mulai, tetapi dari apa yang Anda akhiri (cieh) ๐Ÿ˜€

Jika akhirnya kami hanya bisa membayarkan uang sekolah untuk satu orang anak kurang mampu, itu saja sudah cukup baik, karena kita tidak akan pernah tahu akan menjadi siapa satu orang anak ini ๐Ÿ™‚

Kemarin sebenarnya saya dan Nia ingin memberi nama gerakan ini “Coins for A Cause“. Tetapi ketika merujuk ke Google pagi ini, sudah cukup banyak gerakan bernama sama, meski mekanismenya berbeda-beda. Maka, setelah mencoba membongkar-pasang berbagai nama, saya pun bertanya pada Unspun yang kebetulan lewat–tanpa memberitahukan secara mendetail mengenai gerakan ini.

“Kira-kira nama apa yang cocok? Coin for A Chance?”

“Bagaimana kalau Coin A Chance saja?” jawabnya.

Saya langsung menyukai nama itu. Coin A Chance. Koin-kan sebuah kesempatan. Ya, kesempatan untuk sekolah lagi, yang didapatkan dari koin-koin logam kembalian milik saya, digabung dengan milik Nia, digabung dengan milik Anda, sahabat Anda, keluarga Anda…

Maka, lahirlah Coin A Chance! ๐Ÿ™‚

Pagi ini, saya juga sempat mem-posting mengenai “Ke Mana Perginya Uang Logam Anda?” di blog saya, dan melakukan polling kecil-kecilan di sana. Ternyata hampir seluruh pengisi polling menyatakan bahwa jika mereka bisa mengumpulkan uang-uang logam yang berceceran itu untuk memberikan kesempatan bagi anak yang kurang mampu agar bisa sekolah lagi, mereka akan berpartisipasi!

Lalu, bagaimana mekanismenya? Bagaimana Anda bisa ikut menyumbangkan uang-uang logam Anda agar tidak memberati dompet dan tidak menyesaki celengan? ๐Ÿ™‚ Tunggu perkembangan berikutnya di sini, ya!

– Hanny –

Both comments and pings are currently closed.