Archive for the Sekolah Lagi! Category

Dhalia si “Hidung Merah” Kembali ke Sekolah!

Posted on Tuesday, June 28th, 2011 at 12:15 pm

Coin a Chance! tidak sendiri. Di luar sana, banyak gerakan bahkan yayasan lain yang jauh lebih besar dari kami. Semuanya punya misi yang sama: membuat pendidikan bisa diakses oleh anak-anak usia sekolah, di mana saja. Salah satu kawan Coin a Chance! adalah teman-teman di “Sirkus Hidung Merah” atau “Red Nose Circus“. Digawangi Dan Roberts, seorang artis sirkus profesional, Red Nose Circus menyambangi daerah nelayan kumuh di sekitar Cilincing, dan mengajari anak-anak di sana bermain sirkus.

coin a chance & red nose

Mengapa bermain sirkus? Karena sirkus mengajarkan mereka disiplin. Percaya diri. Ketekunan. Mereka belajar agar tidak mudah menyerah. Di samping mengajari anak-anak bermain sirkus, Dan juga punya kekhawatiran lain. Banyak di antara anak-anak nelayan ini yang tidak punya kesempatan bersekolah, karena mereka tidak memiliki biaya.

Salah satunya adalah Dhalia. Umurnya 13 tahun. Dia baru saja datang ke Cilincing bersama keluarganya. Ayah dan kakak lelakinya adalah nelayan, sementara ibunya pengupas kerang. Dhalia pemalu, tapi cerdas. Bulan April lalu, dia sudah ikut ujian nasional, lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Al-Husna, dan ingin sekali melanjutkan ke SMP jika ada biaya. Cita-citanya: jadi dokter! πŸ˜€

coin a chance - dhalia

Dan atas nama teman-teman semua, kami senang sekali mengabarkan bahwa kami sudah menyisihkan biaya sekolah Dhalia untuk memulai kelas 1 SMP-nya! Dalam waktu dekat, akan kita kabari lagi, ya, Dhalia diterima di SMP mana! Dan tahun ini, insyaallah, ada 3 orang anak lagi yang akan kita kirim ke sekolah. Doakan, ya! πŸ™‚ Sekarang kami sedang melakukan survei untuk menentukan anak-anak yang akan kita bantu, nih! ^^

Yuk, kita kirim lebih banyak anak Indonesia ke sekolah! Thanks Coiners and Droppers, for you have sent Dhalia back to school!

KlikHati dan Coin a Chance! Mampir di Solo

Posted on Friday, January 21st, 2011 at 3:33 pm

Selamat tahun baru 2011, Coiners dan Droppers! Maaf baru sempat cerita-cerita lagi! Akhir tahun 2010 lalu ada banyak perkembangan baru seputar Coin a Chance! dan karenanya, kami begitu sibuk mengurus beberapa hal. Sibuk ngapain, sih? Psst, nanti kami kasih tau, ya, kalau semuanya sudah siap! ^^ Itulah sebabnya kami baru sempat posting lagi sekarang πŸ˜€ 2010 adalah tahun yang luar biasa buat kami. Selain di akhir tahun Coin a Chance! sempat masuk menjadi icon sosial di Majalah Gatra (makasih untuk @dimasnovriandi yang memberi tahu kita via Twitter!), Gatra coin a chance beberapa bulan yang lalu CaC juga terpilih sebagai salah satu penerima Klikhati Award, program penghargaan yang diinisiasi oleh perusahaan farmasi, PT. Merck, Tbk. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada individu atau komunitas yang dianggap sudah berjasa melakukan aksi sosial secara konsisten melalui penggunaan media sosial. Diharapkan, aksi-aksi ini dapat menimbulkan dampak luas dan menjadi inspirasi bagi orang banyak.

Kiri: Nia, Kanan: Anggia, bendahara CaC!

Kiri: Nia, Kanan: Anggia, bendahara CaC!

Selain penghargaan, Coin A Chance juga menerima bantuan dana sebesar Rp. 10 juta yang dapat digunakan untuk membantu kegiatan yang dilakukan CaC.
img00621-20110118-1149

Anggia, Desi dan Pak Kepsek, Casadi

Setelah beberapa pertimbangan, dana dari Klikhati kami pergunakan untuk membantu pendidikan Desi Murniati, anak ke-8 CaC, yang tinggal di Solo. Sejak pertama dibantu, CaC belum sempat bertemu muka dengan Desi dan Ibunya, terlebih lagi berkunjung ke sekolahnya, SMK 1 Karanganyar, yang ternyata terbaik di wilayah tersebut dan memiliki standarisasi ISO 9001: 2000. Pada hari Selasa, 18 January 2011, Anggia & Nia berangkat menuju Solo via Jogja. Sesampainya di Jogja, kami menjemput Nico Wijaya dari Yogyakarta Coin A Chance! yang akan membantu mendokumentasikan kunjungan kami. Setelah sempat diberhentikan polisi karena pak supir melanggar marka jalan dan tersasar beberapa kali, akhirnya kami tiba di SMK 1 Karanganyar. Walaupun cuacanya sangat panas, tapi kami sangat senang akhirnya bisa mengunjungi Desi di sekolahnya, dan bertemu dengan Kepala Sekolah, Pak Casudi. Pihak sekolah menyambut baik niat Coin A Chance!, dan kami semakin terharu ketika Pak Casudi menyampaikan niatnya ingin mengadopsi kegiatan kami di sekolah tersebut. “Biasanya kami hanya membantu melalui infaq dari guru-guru, tapi ini menginspirasi kami, jika murid-murid bisa ikut menyisihkan uang recehnya dan membantu temannya yang membutuhkan, bukankah itu lebih baik?” kata beliau.
Bayar kekurangan uang sekolah Desi

Bayar kekurangan uang sekolah Desi

Sambil menunggu Desi pulang sekolah, kami menyelesaikan beberapa pembayaran dengan pihak ‘Bank Sekolah’. Ternyata saat pendaftaran, tiap murid langsung dibukakan rekening tabungan dengan saldo awal sebesar Rp.5000,- Kami pun tertarik ingin mengetahui berapa saldo yang dimiliki Desi saat ini? Sedih rasanya mendengar Desi belum pernah menabung lagi. CaC kemudian menargetkan Desi untuk menabung sedikitnya Rp.5000 per bulan. Oiya, nama bank sekolah Desi adalah Bank Mini Unggul Artha. Tidak main-main, tabungan tersebut berbunga sebesar 1.5%. Pihak sekolah ingin murid-muridnya merasakan benar manfaat memiliki simpanan sedini mungkin. Setelah Desi pulang sekolah, kami melanjutkan kunjungan ke rumah orang tuanya yang berlokasi di Desa Bulurejo, Sukoharjo. Kami disambut oleh pelukan hangat dari Ibunda Desi. Kami ikut terharu melihat beliau yang menangis dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Hal yang sama juga dilontarkan oleh Bibi dan Mbahnya Desi yang saat itu ikut menemui kami. Kunjungan kami ke Solo memang sangat singkat. Hanya 1 hari. Tetapi mungkin itu adalah 1 hari pertama yang akan selalu kami ingat di tahun 2011. Dengan bantuan dari Klikhati, akhirnya kami dapat bertemu dengan Desi dan keluarganya. Kami sangat bersyukur karena apa yang kami lakukan dapat menginspirasi orang lain untuk ikut membantu sesama. Kami berharap semangat saling berbagi dan membantu tersebut dapat dijaga keberlangsungannya. Dari hal kecil yang kerap dianggap remeh, bersama-sama Coin A Chance! dapat membantu memberikan sebuah kesempatan pada seorang murid untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dan kami bertekad untuk meneruskan dan mempertahankan apa yang sudah kami mulai. screen-shot-2011-01-21-at-32639-pm1 Terima kasih banyak coiners & droppers atas kepercayaannya kepada kami, untuk dukungannya yang tidak pernah putus, teman-teman Yogyakarta Coin A Chance! atas bantuannya selama kami di Solo & Jogja, Ivan dan Momon yang sudah berbaik hati menemani kami. Tentunya kepada teman-teman di Klikhati, semoga program ini semakin memberikan inspirasi kepada orang banyak agar dapat berbuat lebih untuk sesama. * Saat ini Desi Murniati duduk di kelas 1 SMK1 Karanganyar, Solo. Sekolah yang sudah menjadi impiannya sejak di bangku SMP. Ayahnya seorang penjaga warung di Senopati, Jakarta Selatan dan Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya dihabiskan mengurus Desi dan kakak perempuannya, Dian. Desi hampir tidak dapat meneruskan pendidikan karena orang tuanya tidak memiliki biaya yang diperlukan untuk membayar uang pangkal serta keperluan sekolah lainnya, sebesar Rp. 3,020,000,-

Sertifikat Tya Sudah Ditebus! ^^

Posted on Thursday, November 11th, 2010 at 11:26 am

Coiners dan droppers, masih ingat sama Tya kan? Alhamdulillah, akhirnya Tya sudah mendapatkan sertifikatnya! πŸ™‚ Kalau kawan-kawan ingat, sertifikat kelulusan Tya sempat ditahan pihak sekolah. Ini karena Tya belum melunasi tunggakan biaya sekolahnya.

Hari Selasa, 26 Oktober 2010 lalu, sekitar jam 10 pagi, Anggi (bendahara CaC), datang ke SMK Tunas Wisata Indonesia, sekolah Tya. Di sini, Anggi bertemu dengan Ibu Rini dari bagian Tata Usaha. Selama ini CaC sudah sempat mengobrol via telepon dengan Ibu Rini. Kami bertanya dan melakukan konfirmasi perihal tunggakan pembayaran dan sertifikat Tya.

Menurut Ibu Rini, Tya itu memang anak yang pintar. Walaupun sudah hampir setahun menunggak biaya sekolah, tapi pihak sekolah tidak tega mengeluarkan Tya. Sebenarnya, sebelum ini Tya juga sempat mendapat support dari sebuah yayasan. Namun sayangnya, karena satu dan lain hal yayasan tersebut terpaksa menghentikan pembiayaan untuk Tya. Ibu Rini ikut menyampaikan ucapan terima kasih pada kawan-kawan semua juga, yang membantu Tya mendapatkan sertifikatnya! πŸ™‚

coinachance - sertifikat Tya

Kisah Tya juga sempat menyentuh banyak orang. Kenyataan bahwa Tya sulit mendapat pekerjaan karena tak punya sertifikat adalah hal yang menyedihkan. Ini juga sempat menjadi perhatian salah seorang kawan CaC yang sedang menuntut ilmu di Belanda. Ia langsung mendonasikan sejumlah uang untuk dipakai melunasi sebagian tunggakan sekolah Tya. Isu youth employment memang sempat menjadi perhatian kawan kami itu, sehingga menurutnya, kisah Tya ini dekat dengan dirinya.

Hari Minggu kemarin, Anggi menghubungi Tya dan memberitahu bahwa Tya sudah bisa mengambil ijazahnya. “Mbak, terima kasih banyak ya, Mbak atas bantuan dari CaC, terima kasih. Terima kasih banyak, aduh saya bingung mau bilang apa lagi, pokoknya terima kasih banyak!” kata Tya gembira. Rasanya langsung ikut semangat lagi mendengar antusiasme Tya! Terima kasih ya, kawan-kawan semua! Kita bisa membantu Tya karena koin-koin yang kalian kumpulkan selama ini, lho!

Oh ya, di samping kabar gembira mengenai sertifikat Tya, kami juga mau mengucapkan terima kasih untuk kawan-kawan yang mengumpulkan koin di Pesta Blogger+ 2010! Di antaranya: Accenture, kawan-kawan dari KPPU, titiwakmar, BudiAFC, dan para pengunjung lainnya yang β€œmencemplungkan” uang recehannya ke stoples kita! πŸ™‚ Makasih!

coinachance pesta blogger

Besok kami akan menggelar Coin Collecting Day 13 di FX, tepatnya di Es Teler 77, pukul 7 malam. Tya dan ibunya juga akan datang untuk berbagi cerita dan mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan Coiners dan Droppers semua πŸ™‚ Feel free to come and count coins with us! Let’s send more kids back to school! πŸ™‚

Bantu Tya Dapetin Sertifikat, Yuk!

Posted on Thursday, October 7th, 2010 at 4:46 pm

Update: Saat ini kita sudah menyalurkan dana dari celengan CaC! untuk melunasi sertifikat Tya. Sekarang sedang dalam proses cek ulang ke sekolah dan mengurus administrasinya. Terima kasih banyak bagi yang sudah merespon dan juga bagi mereka yang khusus hendak memberikan bantuan untuk Tya.^^ We love you, Coiners! Mari kirim lebih banyak anak-anak ke sekolah! Collect your coins! πŸ™‚ +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Kemarin sore, ketika langit gelap dan nyaris dilanda badai, seorang ibu mampir ke kantor Maverick. Namanya Ibu Eni, usianya sekitar empat puluh tahun. Anak sulung Ibu Eni, namanya Tya. Tya sudah lulus dari sebuah SMK pariwisata, bahkan sudah magang di sebuah hotel bintang lima. Ia juga sudah memasuki wawancara tahap final di gerai donat dan gerai kopi terkemuka. Tetapi masalahnya: Tya tidak punya sertifikat kelulusan—yang masih menjadi prasyarat dalam penerimaan pekerjaan. Ibu Eni tidak sanggup melunasi biaya pendidikan dan ujian Tya, sehingga sertifikatnya masih ditahan oleh pihak sekolah hingga saat ini. Padahal Tya sendiri ingin sekali cepat bekerja agar dapat membantu keluarganya. screen-shot-2010-10-07-at-44214-pm Suatu hari, Ibu Eni yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini, melihat tabloid NOVA di rumah majikannya. Ketika membuka-buka tabloid tersebut, Ibu Eni sampai pada halaman yang membahas mengenai Coin a Chance!. Ibu Eni berpikir, ada lagi harapan baru untuk menebus sertifikat Tya. Sebelumnya, Ibu Eni sudah sempat mendatangi beberapa organisasi besar untuk meminta bantuan, namun belum juga berhasil. Maka Ibu Eni pun minta ijin pada majikannya untuk meminjam tabloid tersebut. Sayang, hal ini tak diijinkan. Ibu Eni pun mencatat hal-hal yang diperlukannya dari tabloid NOVA, lalu pergi ke lapak koran untuk mencari tabloid tersebut—yang memang sudah merupakan edisi lama. Karena tidak menemukannya, maka Ibu Eni mencatat alamat kantor redaksi tabloid NOVA, dan datang ke sana. Ia mencari jurnalis yang menulis mengenai CaC! dan memohon diberikan kontak agar bisa bertemu langsung dengan CaC!. Dari jurnalis itulah Ibu Eni mendapatkan alamat kantor Maverick—tempat saya dan Nia bekerja. Dan demikianlah kami dipertemukan. Ibu Eni datang membawa laporan nilai-nilai dan laporan magang Tya. Semua nilai-nilainya bagus, 8 dan 9. Tya juga bisa berbahasa Inggris dan bahasa Jepang. Ia sempat juga magang menjadi barista dan bisa membuat capucinno dengan hiasan-hiasan cantik. “Masalahnya itu, dia nggak bisa diterima kerja karena sertifikatnya nggak ada, Kak,” kata Ibu Eni. “Saya suka kasihan, dia kalau pulang habis wawancara suka ngelamun sendiri, karena semuanya bilang harus ada sertifikat…” Tunggakan biaya sekolah Tya adalah sekitar 1 juta rupiah (tadi baru masuk tagihan lain dari sekolah, ternyata sampai 3 juta rupiah seluruhnya, 1 juta rupiah ini hanya untuk biaya uji kompetensi). Dengan melunasi tunggakan ini, barulah sertifikat kelulusan Tya bisa dikeluarkan. “Saya tau, Tya pasti mimpi bisa kuliah, tapi mau bilang apa, saya nggak sanggup. Kasihan juga, padahal nilainya bagus. Tapi dia bilang dia mau kerja saja biar bisa bantu-bantu.” screen-shot-2010-10-07-at-44455-pm Ayah Tya saat ini bekerja sebagai tenaga lepasan di pelabuhan. Kerjanya serabutan. Apa saja yang bisa dikerjakan, ya dikerjakan. Ini membuat penghasilan keluarga Tya tak tentu. Dalam sebulan terkadang hanya bisa pulang membawa 200 – 300 ribu rupiah. Ibu Eni sendiri bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dulu, Ibu Eni bekerja di tiga rumah sekaligus, demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi belakangan Ibu Eni menguranginya menjadi satu rumah saja. “Saya nggak kuat, badan hancur juga lama-lama. Soalnya anak kedua saya, Sidiq, autis. Jadi saya harus kasih perhatian lebih. Kadang dia juga nggak tidur semalaman, saya juga ikut jaga dia.” Dari penghasilan sebagai pembantu rumah tangga, Ibu Eni biasa membawa pulang 300 ribu rupiah setiap bulannya. Saat ini Sidiq tidak bersekolah. “Biaya sekolahnya yang untuk anak autis 1 juta sebulan,” kata Ibu Eni. “Saya nggak sanggup.” Selain Tya dan Sidiq, ada juga si kecil Fandi yang masih duduk di kelas 5 SD. “Untuk Fandi alhamdulillah sekolahnya gratis, paling butuh biaya seragam dan buku. Kalau buku biasanya masih bisa fotokopi, masih bisa kami sisihkan buat dia.” Dalam kondisinya yang sedemikian, Ibu Eni juga masih punya seorang anak angkat. Namanya Bayu. “Dulu ada tetangga di sebelah rumah melahirkan. Lalu suatu hari dia datang, katanya dia mau kerja dan mau titipin anaknya di rumah. Ternyata sampai sekarang anaknya nggak diambil lagi. Sampai sudah 5 tahun. Tapi ya, saya nggak tega, kan. Sudah saya anggap anak sendiri juga, dari kecil sama saya, dia taunya saya ibunya.” Ada satu percakapan sore itu yang membuat kami belajar banyak. Belajar bersyukur. Belajar menerima. Belajar sabar.

“Pasti repot ya, Bu, sambil mengurus anak yang autis juga, kerja juga…” “Nggak repot, kok, Kak Hanny, Kak Nia,” ujar Ibu Eni. “Justru bersyukur, saya dipercaya dititipi anak yang seperti ini. Saya seneng aja ngerawatnya.”

Kawan-kawan, kita bantu Tya lewat CaC!, ya. Supaya Tya bisa segera mendapatkan sertifikatnya untuk bekerja πŸ™‚

Surat dari Inti

Posted on Wednesday, July 14th, 2010 at 2:33 pm

Inti adalah anak kedua yang dibantu oleh Coin a Chance! dan berkat bantuan kawan-kawan Coiners dan Coin Droppers, Inti sekarang sudah lulus dari SMK. Ini adalah surat dari Inti: screen-shot-2010-07-14-at-22022-pm Namaku Inti Indrascreen-shot-2010-07-14-at-31916-pmyudha Persada. Aku bersekolah di SMK Muhammadiyah 01 Parakan, kelas XII jurusan Penjualan. Pada tanggal 4 April 2010, sekolahku mengadakan tour akhir sekolah, tempat tujuan kami adalah kota Garut. Hari pertama kami mengunjungi Candi Cangkuang, di sana terdapat Prasasti Peninggalan Sejarah berbentuk sebuah candi, tidak terlalu besar memang, namun sangat indah. Setelah puas menikmati keindahan candi dan makan siang di taman sekitar candi, kami beranjak menuju pemandian air hangat di Cipanas untuk membersihkan diri. Cipanas adalah tempat di mana terdapat kolam-kolam berisi air panas yang airnya langsung mengalir dari gunung. Sesampainya di sana kami langsung memilih kolam, setelah membersihkan diri barulah kami pergi ke penginapan. Hari kedua di pagi hari, kami bersiap-siap untuk pergi ke tempat wisata selanjutnya, yaitu Gunung Papandayan. Setelah mandi dan sarapan pagi, kami pun berangkat. Sampai di kaki gunung kami istirahat sambil makan siang. Setelah makan kami pun berjalan mendaki gunung dengan dibantu seorang pemandu jalan. Setelah perjalanan mendaki yang cukup berat, akhirnya kami sampai di kawah gunung, bau belerang sudah sangat menyengat, namun tidak masalah untuk kami. Tapi sayang, kami tak bisa berlama-lama di sana karena mendung sudah meliputi kawasan sekitar gunung. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. screen-shot-2010-07-14-at-22820-pm Dari Gunung Papandayan, kami langsung pulang ke Jakarta setelah sebelumnya mampir ke tempat-tempat pembelian cindera mata. Perjalanan wisata yang melelahkan tetapi sangat berkesan, terutama untukku, karena ini pertama kalinya aku mengunjungi tempat-tempat wisata. Terima kasih untuk Coin a Chance yang telah membiayai tour dan melunasi seluruh biaya sekolahku. Sekali lagi terima kasih yang tak terhingga untuk Coin a Chance!.