Archive for the Sekolah Lagi! Category

Terima Kasih Untuk Kamu – Goodness Sharing Machine

Posted on Wednesday, September 5th, 2012 at 1:56 pm

Terima kasih untuk coiners dan droppers yang sudah berpartisipasi dalam program Coca-Cola dan Coin a Chance (Yayasan Coin Anak Bangsa). Dalam program Goodness Sharing Machine, Coca-Cola juga membuat viral video yang melibatkan adik-adik seperti Muhammad Rizky, Muhammad Nurfandhi, dan Muhammad Fachry. Mau lihat videonya : Terima kasih untuk Kamu      

Cerita Andra selama di Taman Kanak-Kanak

Posted on Friday, June 15th, 2012 at 6:33 pm

Septiandra Priyatna (Andra) adik asuh CaC! yang paling muda datang kekantor CaC! sambil memperlihatkan foto saat manasik dan hasil karya Andra selama bersekolah di Taman kanak-kanak.

Andra saat latihan Manasik Haji

Ini dia beberapa hasil karya Andra, Keren kan? πŸ˜€

Dapet nilai 100 πŸ˜€

Keren!

Andra Mewarnai

 

Di tahun ajaran baru ini Andra akan melanjutkan ke tingkat TK B di TK Nurul Alam. Hasil raport Andra akan kami update di cerita berikutnya πŸ˜€

Terima kasih Kakak-Kakak Coiners!

Surat dari Dhilah

Posted on Wednesday, May 30th, 2012 at 4:37 pm

Coiners dan droppers masih ingat Dhilah? Hari ini kita semua mendapatkan surat dari adik kita yang pandai dan bersemangat ini, lho. Ini suratnya:

Sebelum kumulai cerita ini, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Coin a Chance!, terutama Ibu Anggi yang “menemukan” aku, karena telah membantuku membiayai sekolahku sehingga aku bisa lulus. Cerita ini dimulai saat aku lulus SMP. Aku yang memang bercita-cita menjadi teknisi kesehatan, mendaftar dan diterima di SMK Farmasi DITKESAD. Saat itu, keuangan keluargaku mencukupi untuk membiayai sekolah di sana. Ayahku adalah seorang wirausahawan yang cukup sukses di bidang distribusi minuman. Namun semenjak salah seorang supir ayahku menipu dan mengambil pelanggan-pelanggan ayahku, lama-kelamaan bisnis ayahku mulai sepi. Ayahku memutuskan untuk menjual mobil untuk menutupi kerugian. Di saat yang bersamaan, ruko kontrakan yang kami tinggali selama ini, dinaikkan harga sewanya menjadi dua kali lipat harga semula. Kami pun pindah. Ruko yang dulu kami tempati, disewa oleh wirausahawan yang membuka usaha di bidang yang sama dengan ayahku. Para pelanggan ayahku mengira bahwa ayahkulah yang menjalankan toko tersebut. Mereka beralih ke toko tersebut. Di toko yang baru, tidak banyak pelanggan lama yang datang. Keuangan kami waktu itu tidak cukup untuk membiayai kehidupan kami, termasuk biaya sekolahku, membuat orang tuaku menjual tanah. Uang hasil jual tanah tersebut dijadikan modal untuk berjualan gas. Naasnya, semua barang yang telah dibeli, digasak habis oleh pencuri. Perasaanku kacau. Ibuku bingung dan menangis. Tetapi ayahku tetap tegar. Beliau memberhentikan karyawannya untuk mengurangi pengeluaran. Untuk modal berjualan, ayahku menjual mobil. Beliau yang selama ini menjadi bos dan jarang melakukan pekerjaan berat, kini mendorong gerobak berisi gas dan minuman dalam kemasan. Rasanya sedih melihat ayahku yang sudah tidak muda lagi mendorong gerobak. Di waktu senggang, aku dan adikku membantu ayahku mengirim barang orderan. Jika sedang tidak ada orderan, ayahku bekerja menjadi buruh bangunan di suatu proyek. Di saat yang sama, aku harus belajar untuk membanggakan kedua orang tuaku yang terus berjuang untuk kami, anaknya. Tentang sekolah, banyak hal yang aku pelajari di sekolah. Bukan hanya tentang ilmu eksak. Tetapi cara berorganisasi, kebersamaan, kerja keras, persahabatan, dan juga loyalitas. Aku senang sekali bersekolah di SMK Farmasi DITKESAD. Semuanya berjalan baik, sampai aku berada di tingkat XII. Orang tuaku mulai tidak sanggup membiayai sekolahku. Berbagai cara mereka lakukan, dari mulai menjual TV, kulkas, dan AC untuk membiayai sekolahku dan kedua adikku yang masih di tingkat SMP dan TK. Tetap saja, tunggakan SPP masih tersisa. Dalam keadaan putus asa, ibuku berusaha meminjam uang kepada teman-temannya. Tetapi, tidak ada yang mau membantu kami. Saat aku naik kelas tiga, guruku menginformasikan bagi yang belum melunasi tunggakan tidak mendapatkan kelas. Aku bingung dan amat sedih. Aku berpikir, “Apakah aku akan selesai sekolah sampai sini saja? Sebagai seseorang yang tidak tamat SMK?”. Kemudian datanglah saat itu. Awalnya, ibuku hanya bercerita saja kepada seorang teman lama, Ibu Ida, tentang kehidupan keluarga kami sekarang. Lalu, ibuku menangis saat bercerita tentang keadaanku yang tidak mendapatkan kelas. Beberapa hari kemudian, Ibu Ida memberitahu kami bahwa ada yang akan membantu menyekolahkanku. Kata Ibu Ida, beliau hanya posting ceritaku di jejaring sosial. Ternyata ada yang merespon dengan baik. Beberapa hari setelah informasi dari Ibu Ida, ibuku mendapat telepon dari Ibu Anggi Coin a Chance!. Lalu, ibuku menceritakan permasalahanku. Setelahnya, Ibu Anggi datang ke sekolahku dan membayarkan tunggakanku. Hanya satu kata yang terucap, “Alhamdulillah!”. Saat itu, semua perasaan bahagia dan lega terkumpul di keluarga kami. Kini, aku harus terus berjuang menggapai cita-citaku menjadi dokter. Demi ayahku, ibuku, keluargaku, guru-guruku, orang-orang yang memberiku semangat, yang berjuang untukku dan orang-orang yang telah membantuku bersekolah lagi. Termasuk Coin a Chance!. Terima kasih banyak, Coin a Chance! Aku bisa bersekolah lagi. Terima kasih banyak, Coin a Chance! karena telah menyambung mimpiku kembali. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian. Nur Fadhilah F.

Dahlia Sudah Bersekolah Lagi!

Posted on Tuesday, October 18th, 2011 at 1:49 pm

Masih ingat Dahlia–salah satu anak dari sirkus Hidung Merah yang sempat kawan-kawan bantu? coinachance Dhalia Nah di bawah ini ada update via email dari Dan Roberts–pendiri sirkus Hidung Merah tentang Dahlia: “Saat ini Dahlia sudah mulai bersekolah lagi. Di awal semester, Dahlia sudah membeli seragam dan peralatan sekolah. Dia senangsekali akan kembali ke sekolah, terutama karena kita sudah memberitahunya bahwa ia mendapatkan beasiswa. Awalnya dia sudah berpikir tidak akan melanjutkan sekolah karena kesulitan biaya. Saat ini dia sudah belajar dan melakukan yang terbaik. Kami sangat bangga padanya.” coinachance dahlia

Kami juga ikut bangga! πŸ™‚ Semoga Dahlia tetap bisa belajar rajin dan bersenang-senang dengan bermain sirkus, ya!

“We really appreciate your support in our project and in keeping Dahlia in school!” kata Dan Roberts. Kami pun berterima kasih atas dukungan dan bantuan kawan-kawan semua yang masih rajin mengumpulkan koin-koin untuk mengirim lebih banyak lagi anak-anak seperti Dhalia ke sekolah!

Salam koin! πŸ™‚

Cerita Tentang Dhilah

Posted on Monday, July 25th, 2011 at 11:19 am

Hari Rabu, 20 Juli 2011, Coin a Chance berkesempatan untuk kembali membantu anak yang hampir putus sekolah, Dia adalah Nur Fadhilah, Siswi SMK Farmasi yang akan naik ke kelas 3, tapi dikarenakan keterbatasan biaya yang dimiliki oleh keluarganya (Usaha Ayahnya makin lama makin menurun sehingga sekarang akhirnya bangkrut) menyebabkan Dhilah mempunyai tunggakan uang sekolah sebesar Rp.1,200,000,-. Sedangkan untuk naik ke kelas 3 Dhilah diwajibkan untuk membayarkan uang masuknya sebesar Rp. 3,800,000,-, jadi total yang harus disediakan oleh orang tuanya adalah Rp.4,800,000,-. Belum lagi jarak rumah dan sekolah Dhilah cukup Jauh (Ciputat – Senen) yang membutuhkan biaya transportasi.

Coin a Chance mendapatkan informasi mengenai Dilla dari Mba Ida Rekan kerjanya Nia dan Hanny yang merupakan tetangganya keluarga Dhilah. Lalu kami segera meng-interview ibunya Dhilah, Ibu Santi melalui telepon dan menceritakan Dhilah yang sudah 4 hari tidak ke sekolah dikarenakan belum bisa membayarkan tunggakan dan uang masuk untuk kekelas 3. Orang tuanya Dhilah sudah berusaha untuk meminjam ke sanak saudara dan tetangga, tapi usahanya kali ini belum berhasil.

Kemudian kisah Dhilah kami live tweet, Alhamdulillah dalam beberapa jam saja sudah ada seorang Coiner yang mau membantu Dhilah, sehingga Dhilah masih punya kesempatan untuk bisa kembali bersekolah. πŸ˜€

Tanpa menunggu lebih lama setelah kami menerima email hari jumat dan meng-interview ibu Santi hari Senin, Hari Rabunya Kami langsung membayarkan pembayaran installment pertama sebesar Rp.2,200,000,- . Sambutan Guru2 sekolah Dhilah sangat baik, kebetulan Kepala Sekolahnya tidak ada, jadi hanya Bpk Adi guru kelas dan beberapa guru yang lain yang berbincang-bincang dengan Coin a Chance.

Kemudian Bapak Adi memberitahukan Dhilah kalau ada sebuah gerakan sosial yang akan membantu Dhilah dan dengan senyum sumringah Dhilah langsung menjabat tangan saya dan mengucapkan terima kasih…. πŸ™ sungguh terharu. Pihak sekolah Dhilah juga mengucapkan terima kasih ke pada Coin a Chance yang telah membantu Dhilah.

Menurut guru-guru disana Dhilah termasuk anak yang cerdas dan masuk rangking 5 besar, dan selalu aktif dalam berbagai kegiatan di sekolahnya.

Dalam kesempatan ini juga Coin a Chance mengucapkan terima kasih buat para coiners dan droppers. “Let’s collect, drop and send those kids back to school!”

Senyum Sumringah Dilla
Senyum Sumringah Dilla

SMK Farmasi Diskesat - Semua pegawai dan guru berasal dari Pensiunan Angkatan Darat dan ber-Akreditasi A

SMK Farmasi Diskesat - Semua pegawai dan guru berasal dari Pensiunan Angkatan Darat dan ber-Akreditasi A

Depan Sekolah Nur Fadillah, Muridnya sebanyak 200 siswa/i

Depan Sekolah Nur Fadillah, Muridnya sebanyak 200 siswa/i

Ibu Supini TU, SMK Farmasi Diskesat sedang membuatkan Kwitansi untuk Coin a Chance

Ibu Supini TU, SMK Farmasi Diskesat sedang membuatkan Kwitansi untuk Coin a Chance