Archive for the Kisah Uang Logam Category

Lucas’ Hot Cakes Send More Kids Back to School! :)

Posted on Monday, March 28th, 2011 at 9:04 am

Pagi-pagi, begitu sampai di kantor, saya mendapati sepiring cupcakes di meja tengah. Ternyata cupcake ini buatan Lucas, anak kawan saya, Felicia Nugroho. Lucas membuat cupcake ini (dari pisang; dan menggantikan rasa manis gula dengan saus apel) untuk dijual, dan yang mengejutkan saya, ternyata separuh dari keuntungannya akan dia sumbangkan untuk Coin a Chance!. Satu buah cupcake dijual seharga 5ribu rupiah. Is this a school project?” tanya saya pada Lucas, takjub. Dia bilang, “No, it’s holiday,” sambil tersenyum malu-malu. “Have you got your customers’ feedback?” tanya Felicia. “What’s that?” Lucas bertanya balik. “You ask those who have bought your cupcakes, whether they like it or not, whether they want something else…” Felicia menjelaskan. “You need to explain to them as well about your product, for instance, how you change sugar with apple sauce… Setelah bertanya-tanya pada ‘para pembeli’, besok Lucas akan membuat cupcakes lagi (cokelat, berdasarkan permintaan pembeli), tapi kali ini ia akan menjualnya ‘sepaket’ dengan segelas kopi. Jadi 10ribu untuk satu cupcake dan satu gelas kopi. “We can bring our coffee machine,” katanya semangat. Saat ini, ke-18 cupcakes yang dijual Lucas sudah ludes. Satu cupcake terakhir yang diperebutkan Jonathan dan Dody akhirnya dilelang, dan berhasil terjual kepada Jonathan seharga 30ribu rupiah. Sekarang Lucas sedang membagi separuh penghasilan yang didapatkannya untuk disumbangkan ke Coin a Chance! πŸ™‚ screen-shot-2011-03-28-at-90253-am Thanks, Lucas! For doing ‘social business’ on your holiday and helping us send more kids back to school at the same time! :*

Bantu Tya Dapetin Sertifikat, Yuk!

Posted on Thursday, October 7th, 2010 at 4:46 pm

Update: Saat ini kita sudah menyalurkan dana dari celengan CaC! untuk melunasi sertifikat Tya. Sekarang sedang dalam proses cek ulang ke sekolah dan mengurus administrasinya. Terima kasih banyak bagi yang sudah merespon dan juga bagi mereka yang khusus hendak memberikan bantuan untuk Tya.^^ We love you, Coiners! Mari kirim lebih banyak anak-anak ke sekolah! Collect your coins! πŸ™‚ +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Kemarin sore, ketika langit gelap dan nyaris dilanda badai, seorang ibu mampir ke kantor Maverick. Namanya Ibu Eni, usianya sekitar empat puluh tahun. Anak sulung Ibu Eni, namanya Tya. Tya sudah lulus dari sebuah SMK pariwisata, bahkan sudah magang di sebuah hotel bintang lima. Ia juga sudah memasuki wawancara tahap final di gerai donat dan gerai kopi terkemuka. Tetapi masalahnya: Tya tidak punya sertifikat kelulusan—yang masih menjadi prasyarat dalam penerimaan pekerjaan. Ibu Eni tidak sanggup melunasi biaya pendidikan dan ujian Tya, sehingga sertifikatnya masih ditahan oleh pihak sekolah hingga saat ini. Padahal Tya sendiri ingin sekali cepat bekerja agar dapat membantu keluarganya. screen-shot-2010-10-07-at-44214-pm Suatu hari, Ibu Eni yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini, melihat tabloid NOVA di rumah majikannya. Ketika membuka-buka tabloid tersebut, Ibu Eni sampai pada halaman yang membahas mengenai Coin a Chance!. Ibu Eni berpikir, ada lagi harapan baru untuk menebus sertifikat Tya. Sebelumnya, Ibu Eni sudah sempat mendatangi beberapa organisasi besar untuk meminta bantuan, namun belum juga berhasil. Maka Ibu Eni pun minta ijin pada majikannya untuk meminjam tabloid tersebut. Sayang, hal ini tak diijinkan. Ibu Eni pun mencatat hal-hal yang diperlukannya dari tabloid NOVA, lalu pergi ke lapak koran untuk mencari tabloid tersebut—yang memang sudah merupakan edisi lama. Karena tidak menemukannya, maka Ibu Eni mencatat alamat kantor redaksi tabloid NOVA, dan datang ke sana. Ia mencari jurnalis yang menulis mengenai CaC! dan memohon diberikan kontak agar bisa bertemu langsung dengan CaC!. Dari jurnalis itulah Ibu Eni mendapatkan alamat kantor Maverick—tempat saya dan Nia bekerja. Dan demikianlah kami dipertemukan. Ibu Eni datang membawa laporan nilai-nilai dan laporan magang Tya. Semua nilai-nilainya bagus, 8 dan 9. Tya juga bisa berbahasa Inggris dan bahasa Jepang. Ia sempat juga magang menjadi barista dan bisa membuat capucinno dengan hiasan-hiasan cantik. “Masalahnya itu, dia nggak bisa diterima kerja karena sertifikatnya nggak ada, Kak,” kata Ibu Eni. “Saya suka kasihan, dia kalau pulang habis wawancara suka ngelamun sendiri, karena semuanya bilang harus ada sertifikat…” Tunggakan biaya sekolah Tya adalah sekitar 1 juta rupiah (tadi baru masuk tagihan lain dari sekolah, ternyata sampai 3 juta rupiah seluruhnya, 1 juta rupiah ini hanya untuk biaya uji kompetensi). Dengan melunasi tunggakan ini, barulah sertifikat kelulusan Tya bisa dikeluarkan. “Saya tau, Tya pasti mimpi bisa kuliah, tapi mau bilang apa, saya nggak sanggup. Kasihan juga, padahal nilainya bagus. Tapi dia bilang dia mau kerja saja biar bisa bantu-bantu.” screen-shot-2010-10-07-at-44455-pm Ayah Tya saat ini bekerja sebagai tenaga lepasan di pelabuhan. Kerjanya serabutan. Apa saja yang bisa dikerjakan, ya dikerjakan. Ini membuat penghasilan keluarga Tya tak tentu. Dalam sebulan terkadang hanya bisa pulang membawa 200 – 300 ribu rupiah. Ibu Eni sendiri bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dulu, Ibu Eni bekerja di tiga rumah sekaligus, demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi belakangan Ibu Eni menguranginya menjadi satu rumah saja. “Saya nggak kuat, badan hancur juga lama-lama. Soalnya anak kedua saya, Sidiq, autis. Jadi saya harus kasih perhatian lebih. Kadang dia juga nggak tidur semalaman, saya juga ikut jaga dia.” Dari penghasilan sebagai pembantu rumah tangga, Ibu Eni biasa membawa pulang 300 ribu rupiah setiap bulannya. Saat ini Sidiq tidak bersekolah. “Biaya sekolahnya yang untuk anak autis 1 juta sebulan,” kata Ibu Eni. “Saya nggak sanggup.” Selain Tya dan Sidiq, ada juga si kecil Fandi yang masih duduk di kelas 5 SD. “Untuk Fandi alhamdulillah sekolahnya gratis, paling butuh biaya seragam dan buku. Kalau buku biasanya masih bisa fotokopi, masih bisa kami sisihkan buat dia.” Dalam kondisinya yang sedemikian, Ibu Eni juga masih punya seorang anak angkat. Namanya Bayu. “Dulu ada tetangga di sebelah rumah melahirkan. Lalu suatu hari dia datang, katanya dia mau kerja dan mau titipin anaknya di rumah. Ternyata sampai sekarang anaknya nggak diambil lagi. Sampai sudah 5 tahun. Tapi ya, saya nggak tega, kan. Sudah saya anggap anak sendiri juga, dari kecil sama saya, dia taunya saya ibunya.” Ada satu percakapan sore itu yang membuat kami belajar banyak. Belajar bersyukur. Belajar menerima. Belajar sabar.

“Pasti repot ya, Bu, sambil mengurus anak yang autis juga, kerja juga…” “Nggak repot, kok, Kak Hanny, Kak Nia,” ujar Ibu Eni. “Justru bersyukur, saya dipercaya dititipi anak yang seperti ini. Saya seneng aja ngerawatnya.”

Kawan-kawan, kita bantu Tya lewat CaC!, ya. Supaya Tya bisa segera mendapatkan sertifikatnya untuk bekerja πŸ™‚

Thanks, Cleo!

Posted on Monday, January 11th, 2010 at 2:26 pm

Makasih untuk kawan-kawan di majalah Cleo, yang sudah menulis mengenai Coin A Chance! untuk kolum Free Your Mind πŸ™‚

Coin A Chance!

Coin A Chance! di Nova

Posted on Monday, January 11th, 2010 at 2:17 pm

Terima kasih atas liputannya πŸ™‚ Semoga semakin banyak kawan-kawan di daerah lain yang juga ikut mengumpulkan koinnya dan mengirim lebih banyak anak-anak kembali ke sekolah, ya! coin_a_chance1

Update: Coin Collecting Tweets #bukasemangatbaru

Posted on Tuesday, December 22nd, 2009 at 5:45 pm

Hai!

Terima kasih banyak atas partisipasi kawan-kawan yang sudah berbagi kebahagiaan, pemikiran positif, semangat, dan optimisme lewat Coin Collecting Tweets #bukasemangatbaru. Sampai hari ini, kami sudah mengumpulkan Rp 1.4 juta dari Coin Collecting Tweets. Ini sudah bisa mengembalikan 3 orang anak kelas 6 di SD Negeri kembali ke sekolah untuk satu tahun dan menamatkan pendidikan di bangku SD!

Terima kasih!

Sebagai pengingat aja, untuk setiap tweet berisi kebahagiaan, pemikiran positif, semangat, dan optimisme dengan tag #bukasemangatbaru (bukan replies dan bukan RT, juga bukan hashtag kosong*), Coca-Cola akan menyumbangkan sejumlah dana utk Coin A Chance! (*mengapa demikian, baca penjelasannya di sini, ya)

Awalnya, Coca-Cola menawarkan Rp 100,- untuk setiap tweet #bukasemangatbaru. Setiap hari Senin dan Jumat, akan disumbangkan Rp 1,000,-. Pada hari ulang tahun Coin A Chance! 18 Desember lalu, satu tweet #bukasemangatbaru = Rp 2,500, dan pada hari Ibu 22 Desember ini, satu tweet #bukasemangatbaru = Rp 5,000! Dan hari ini (23 Des) baru mendapat kabar bahwa hingga hari Minggu nanti, satu tweet #bukasemangatbaru tetap akan dikonversi menjadi donasi Rp 5.000 untuk Coin A Chance!. Mungkin ini juga dimaksudkan untuk berbagi semangat Natal, ya! πŸ™‚

Ikuti kami di Twitter @coinachance untuk mengetahui perkembangan selanjutnya!

Program Coin Collecting Tweets akan berlangsung hingga 31 Desember 2009. Share your happiness via #bukasemangatbaru tweets, and send more kids back to school!