Archive for the Kawan-kawan Category

Car Free Day bersama Nivea For Men dan Coin a Chance!

Posted on Friday, November 30th, 2012 at 5:36 pm

Ternyata keseruan coin collecting di Car Free Day, 25 November 2012 membawa kenangan tersendiri bagi ke-10 Agent of change Nivea for Men. Kesepuluh pria yang mengikuti ajang pemilihan Nivea for Men ini baru merasakan pengalaman pertama untuk mengajak para pengunjung Car Free Day hari itu untuk ikut menyisihkan uang mereka yang akan di sumbangkan ke Coin a Chance!. Dengan berbekal penjelasan mengenai coin a chance yang diberikan oleh coiners saat itu usaha yang mereka lakukan sangat maksimal dengan semangat yang luar biasa.

Finalis Men in Mission - 10 Agent of Change

Septian Nurholis - Pengumpul Dana Terbanyak

NIVEA for Men– Men in Mission (NFM – MIM), merupakan program inisiasi Nivea for Men untuk membantu Pria Muda Indonesia yang berpotensial dalam mewujudkan impian mereka secara nyata. Di tahun pertamanya ini, NFM-MIM mengusung tema Agents of Change, karena salah satu kunci utama sukses adalah perubahan. Pria Muda Indonesia harus terus-menerus merubah diri sendiri menjadi lebih baik, agar mampu menghadapi tantangan & rintangan dalam perjuangan menuju sukses. Dari 3.945 pria Indonesia yang mendaftar terpilihlah 10 pria muda untuk mengikuti misi “City Challange”. Salah satu tantangan mereka adalah mengumpulkan dana sebanyak mungkin selama Car Free Day pada Minggu, November 25, 2012 untuk Coin a Chance!. Septian Nurholis dari Pandeglang merupakan Agen yang memperoleh sumbangan terbanyak. Keseruan dari 10 pria muda tersebut untuk melakukan berbagai cara dalam Fund Rising juga membuat salah satu dari volunter kami menjadi terharu, karena hanya diberikan waktu 10 menit sebelumnya untuk menjelaskan apa itu Coin a Chance! dan berapa banyak anak yang kami bantu, ke sepuluh pria muda tersebut sangat bersungguh-sungguh untuk membantu adik-adik coin a chance untuk kembali ke sekolah. Acara penggalangan dana yang dimulai pukul 7 pagi ini melibatkan hampir semua pengunjung car free day saat itu untuk menyisihkan uang mereka membantu adik-adik coin a chance! Dalam waktu kurang lebih 5 jam dana yang terkumpul oleh ke-sepuluh pria muda tersebut sebesar IDR 4,154,700.

Brand Ambassador Nivea Man

Dalam rangka pengumuman pemenang dari Nivea for Men – Men in Mission, Coin a Chance! juga menghadiri acara penghargaan sekaligus penerimaan simbolisasi donasi untuk Coin a Chance!. Jumlah donasi yang diterima Coin a Chance! dari Nivea for Men adalah sebesar IDR 10,000,000,- . Kami dari Coin a Chance mengucapkan Terima kasih untuk Nivea for Men dan ke-10 Agen yang telah melakukan penggalangan dana untuk Coin a Chance!.

Simbolisasi penerimaan Dana dari Nivea for Men untuk Coin a Chance!

Kemeriahan acara penghargaan ini tidak lengkap rasanya jika kita tidak mengetahui siapa yang berhak menjadi Men in Mission tahun ini. Ini dia pemenangnya Indra Refipal Sembiring, pria kelahiran 18 April 1983 ini mempunyai misi yaitu ; ” I am nothing for something benefit for myself only, I’ll be something for my surrounings benefit only. Mungkin statement ini yang mewakili misi hidup saya saat ini, Ya, saya bersuara keras menyampaikannya saya ingin selalu berguna bagi sekeliling saya”.

Indra Refipal Sembiring – Pemenang

Tiga Pemenang Men in Mission Nivea for Men

Selamat untuk Pemenang semoga bisa membawa perubahan bagi masyarakat sekitar. Dan Selamat juga untuk finalis lainnya jangan berhenti sampai disini terus berkarya untuk membuat perubahan dalam hidup kita dan orang banyak. Sekali lagi Kami mengucapkan TERIMA KASIH untuk NIVEA MAN Sukses Selalu!.

-abp-

Wah! Coin a Chance Meraih Penghargaan “City of Heroes” di Kompasianival

Posted on Tuesday, November 20th, 2012 at 4:18 pm

Sabtu, 17 November 2012, merupakan momen yang tidak akan terlupakan untuk kami Coin a Chance. Bagaimana tidak selain kami diundang sebagai pengisi booth di Kompasianival, Kami juga di nobatkan sebagai “City of Heroes” dalam ajang tersebut. Kebahagian yang sangat luar biasa buat kami. Berita selengkapnya dapat dilihat disini

Dalam kesempatan itu kami juga menyelenggarakan CCD Spesial Kompasianival 2012 dari hasil menghitung koin kami mendapatkan IDR 2,900,000,-. Terima kasih Coiners dan Droppers yang saat itu singgah membantu kami menghitung koin dan teman-teman dropper yang mengantarkan koinnya untuk kami. Makin banyak adik-adik yang putus sekolah bisa tersenyum kembali.  

Surat “Krincing” dari Palu

Posted on Monday, April 4th, 2011 at 6:18 pm

Tadi siang, ada seorang jurnalis yang bertanya pada saya dan Nia: “Kalian apa nggak capek ngejalanin Coin a Chance! ini?” Jujur, sebagai manusia, pasti ada capeknya. Bohong kalau saya dan Nia nggak pernah capek πŸ™‚ Tapi kalau ingat senyuman anak-anak yang bisa sekolah lagi, ingat kelegaan di wajah orang tua mereka waktu mereka tahu bahwa biaya nggak jadi hambatan untuk anak-anak mereka supaya bisa terus sekolah, ingat temen-temen Coin a Chance! di berbagai pelosok Indonesia yang selalu giat ngumpulin koin, ngitung koin, nyalurin bantuan, dan nyebarin gerakan ini kemana-mana… … capek itu hilang. Berubah jadi haru. Jadi seneng. Jadi semangat πŸ™‚ Di sela-sela kesibukan saya dan Nia, selalu ada saja hal-hal yang bikin kami jadi semangat lagi, jadi terharu lagi, dan jadi terinspirasi lagi. Salah satunya, email yang kami terima dari Anita Kasim di Palu:

Dear Coin A Chance! Mba Nia n Mba Hanny n smua coiners CAC… Senang banget Palu Coin A Chance akhirnya terbentuk, walau masi banyak kekurangan di sana sini, tp kami sdh punya komitmen yang sama untuk bisa berkontribusi untuk pendidikan dikota Palu. Pertemuan awal untk sharing info dan ide udah kita laksanakan pada tanggal 1 April 2011 di Lapangan vatulemo, sayangnya kegiatan qta bentrok dengan kampanye cagub hehe…sehingga banyak teman-teman yang membatalkan untuk hadir,karena susahnya mendaptkan tempat parkir (kalu toh dapat tempatnya sangat jauh dan bukanlah tempat yang aman,hiks). But the show must go on, pertemuan tetap dilaksankan walau hanya ada 4 orang yang hadir termasuk saya. Temanku Aqila, Yayuk dan Cican, mereka antusias…mereka tertarik…bahkan mereka punya ide-ide yang seru-seru. Hari menjelang sore, ketika kami akan memutuskan untuk pulang, tiba-tiba dari kejauhan ada sekelompok anak-anak muda yang datang menghampiri kami…Waaah,jumlah mereka sekitar 10an orang. Awalnya kami pikir mereka adalah pendukung Cagub yang baru saja selesai kampanye…ternyata mereka adalah anak-anak muda Palu yang juga sangat concern dengan pendidikan di Kota Palu dan mereka berkomitmen untuk bergabung dan melakukan gerakan yang sama. Ternyata tidak hanya mereka, ada lagi sekelompok anak muda yang mendatangi kami, kliatan mereka baru saja pulang kuliah dan meluangkan waktu untuk bergabung. Satu per satu pun mulai berdatangan dan akhirnya terbentuklah lingkaran diskusi yang seru. Karena waktu yang terbatas dan keadaan yang tidak mendukung maka kami pun masi penasaran untuk kembali berkumpul…Insya Allah dalam bulan ini kami akan kumpul lagi untuk kembali sharing info dan ide sebelum CCD #1 yang rencana akan dilakukan pada tanggal 2 Mei (skalian peringati Hari pendidikan kali yee). Beberapa teman telah membawa kaleng kaleng untuk tempat droping koin. Salah satu sekretariat di kampus sudah menjadi drop zone dan kita sudah mulai mengumpulkan koin utuk ditukarkan dengan kesempatan. Untuk publikasi kegiatan kami baru bisa diakses melalui facebook melali grup Palu Coin A Chance. Untuk jejaring yang lain masi dalam tahap pembuatan karena kami masi mendesain nama yang akan kita pakai untuk atribut CAC Palu. Atribut yang kami gunakan masi bersifat sementara, Insya Allah saat CCD#1 smua atribut publikasi bisa kita share…. Terima kasih untuk teman CAC diseluruh Indonesia CAC Jakarta, CAC Bandung, CAC Jogja, CAC Banda Aceh, CAC Palembang, smua CAC spesial untuk mba Hanny dan Mba Nia yang telah menginspirasi kami untuk berbuat yang sama… Salam doikodi….krinciiing! -anita kasim-

Dan begitu membaca surat dari kawan-kawan di Palu, rasa capek kami hilang. Berganti haru dan semangat. Sampai sekarang, baik saya maupun Nia masih saja suka nggak percaya dan merinding kalau denger ada temen-temen di daerah lain mengadopsi gerakan Coin a Chance!. Dan buat kami, gerakan semacam ini–apapun namanya–bebas diadopsi bahkan di lingkungan keluarga, arisan, atau teman-teman. Intinya, semakin banyak tangan terulur, semakin banyak juga anak-anak di seluruh pelosok Indonesia bisa kembali ke bangku sekolah. Salam krincing, Palu! Dan terima kasih banyak karena sudah mengulurkan tanganmu lebih jauh lagi πŸ™‚ Bagi kamu-kamu yang hendak mengadopsi gerakan Coin a Chance! di daerahmu, silakan lihat ketentuannya di sini, ya: How to Participate. Drop, collect, and let’s send more kids back to school! πŸ™‚

Bantu Tya Dapetin Sertifikat, Yuk!

Posted on Thursday, October 7th, 2010 at 4:46 pm

Update: Saat ini kita sudah menyalurkan dana dari celengan CaC! untuk melunasi sertifikat Tya. Sekarang sedang dalam proses cek ulang ke sekolah dan mengurus administrasinya. Terima kasih banyak bagi yang sudah merespon dan juga bagi mereka yang khusus hendak memberikan bantuan untuk Tya.^^ We love you, Coiners! Mari kirim lebih banyak anak-anak ke sekolah! Collect your coins! πŸ™‚ +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Kemarin sore, ketika langit gelap dan nyaris dilanda badai, seorang ibu mampir ke kantor Maverick. Namanya Ibu Eni, usianya sekitar empat puluh tahun. Anak sulung Ibu Eni, namanya Tya. Tya sudah lulus dari sebuah SMK pariwisata, bahkan sudah magang di sebuah hotel bintang lima. Ia juga sudah memasuki wawancara tahap final di gerai donat dan gerai kopi terkemuka. Tetapi masalahnya: Tya tidak punya sertifikat kelulusan—yang masih menjadi prasyarat dalam penerimaan pekerjaan. Ibu Eni tidak sanggup melunasi biaya pendidikan dan ujian Tya, sehingga sertifikatnya masih ditahan oleh pihak sekolah hingga saat ini. Padahal Tya sendiri ingin sekali cepat bekerja agar dapat membantu keluarganya. screen-shot-2010-10-07-at-44214-pm Suatu hari, Ibu Eni yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini, melihat tabloid NOVA di rumah majikannya. Ketika membuka-buka tabloid tersebut, Ibu Eni sampai pada halaman yang membahas mengenai Coin a Chance!. Ibu Eni berpikir, ada lagi harapan baru untuk menebus sertifikat Tya. Sebelumnya, Ibu Eni sudah sempat mendatangi beberapa organisasi besar untuk meminta bantuan, namun belum juga berhasil. Maka Ibu Eni pun minta ijin pada majikannya untuk meminjam tabloid tersebut. Sayang, hal ini tak diijinkan. Ibu Eni pun mencatat hal-hal yang diperlukannya dari tabloid NOVA, lalu pergi ke lapak koran untuk mencari tabloid tersebut—yang memang sudah merupakan edisi lama. Karena tidak menemukannya, maka Ibu Eni mencatat alamat kantor redaksi tabloid NOVA, dan datang ke sana. Ia mencari jurnalis yang menulis mengenai CaC! dan memohon diberikan kontak agar bisa bertemu langsung dengan CaC!. Dari jurnalis itulah Ibu Eni mendapatkan alamat kantor Maverick—tempat saya dan Nia bekerja. Dan demikianlah kami dipertemukan. Ibu Eni datang membawa laporan nilai-nilai dan laporan magang Tya. Semua nilai-nilainya bagus, 8 dan 9. Tya juga bisa berbahasa Inggris dan bahasa Jepang. Ia sempat juga magang menjadi barista dan bisa membuat capucinno dengan hiasan-hiasan cantik. “Masalahnya itu, dia nggak bisa diterima kerja karena sertifikatnya nggak ada, Kak,” kata Ibu Eni. “Saya suka kasihan, dia kalau pulang habis wawancara suka ngelamun sendiri, karena semuanya bilang harus ada sertifikat…” Tunggakan biaya sekolah Tya adalah sekitar 1 juta rupiah (tadi baru masuk tagihan lain dari sekolah, ternyata sampai 3 juta rupiah seluruhnya, 1 juta rupiah ini hanya untuk biaya uji kompetensi). Dengan melunasi tunggakan ini, barulah sertifikat kelulusan Tya bisa dikeluarkan. “Saya tau, Tya pasti mimpi bisa kuliah, tapi mau bilang apa, saya nggak sanggup. Kasihan juga, padahal nilainya bagus. Tapi dia bilang dia mau kerja saja biar bisa bantu-bantu.” screen-shot-2010-10-07-at-44455-pm Ayah Tya saat ini bekerja sebagai tenaga lepasan di pelabuhan. Kerjanya serabutan. Apa saja yang bisa dikerjakan, ya dikerjakan. Ini membuat penghasilan keluarga Tya tak tentu. Dalam sebulan terkadang hanya bisa pulang membawa 200 – 300 ribu rupiah. Ibu Eni sendiri bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dulu, Ibu Eni bekerja di tiga rumah sekaligus, demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi belakangan Ibu Eni menguranginya menjadi satu rumah saja. “Saya nggak kuat, badan hancur juga lama-lama. Soalnya anak kedua saya, Sidiq, autis. Jadi saya harus kasih perhatian lebih. Kadang dia juga nggak tidur semalaman, saya juga ikut jaga dia.” Dari penghasilan sebagai pembantu rumah tangga, Ibu Eni biasa membawa pulang 300 ribu rupiah setiap bulannya. Saat ini Sidiq tidak bersekolah. “Biaya sekolahnya yang untuk anak autis 1 juta sebulan,” kata Ibu Eni. “Saya nggak sanggup.” Selain Tya dan Sidiq, ada juga si kecil Fandi yang masih duduk di kelas 5 SD. “Untuk Fandi alhamdulillah sekolahnya gratis, paling butuh biaya seragam dan buku. Kalau buku biasanya masih bisa fotokopi, masih bisa kami sisihkan buat dia.” Dalam kondisinya yang sedemikian, Ibu Eni juga masih punya seorang anak angkat. Namanya Bayu. “Dulu ada tetangga di sebelah rumah melahirkan. Lalu suatu hari dia datang, katanya dia mau kerja dan mau titipin anaknya di rumah. Ternyata sampai sekarang anaknya nggak diambil lagi. Sampai sudah 5 tahun. Tapi ya, saya nggak tega, kan. Sudah saya anggap anak sendiri juga, dari kecil sama saya, dia taunya saya ibunya.” Ada satu percakapan sore itu yang membuat kami belajar banyak. Belajar bersyukur. Belajar menerima. Belajar sabar.

“Pasti repot ya, Bu, sambil mengurus anak yang autis juga, kerja juga…” “Nggak repot, kok, Kak Hanny, Kak Nia,” ujar Ibu Eni. “Justru bersyukur, saya dipercaya dititipi anak yang seperti ini. Saya seneng aja ngerawatnya.”

Kawan-kawan, kita bantu Tya lewat CaC!, ya. Supaya Tya bisa segera mendapatkan sertifikatnya untuk bekerja πŸ™‚

Rp.1.350.650,- Terkumpul di CCD#11

Posted on Monday, March 15th, 2010 at 7:42 pm

ccd11_2Dari 11 kali penyelenggaraan, bisa di bilang CCD#11 yang bertempat di area food court PS kemarin adalah yang tersingkat. Maklum, karena pada hari dan di tempat yang sama, kami juga ada kegiatan bersama dengan Nokia untuk program Suarakan Aksimu.

Namun karena kami tidak ingin menunda lebih lama lagi, maka kami putuskan untuk menggunakan waktu yang kami punya semaksimal mungkin. Jadi kami mohon maaf jika ada coiners dan droppers yang merasa waktu pengumpulan koin kemarin kurang panjang.

Walaupun tergolong singkat, namun Coin Collecting Day ke-11 yang dimulai dari jam 11.00 sampai 2 siang tersebut berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp.1.350.650,– jumlah yang cukup banyak mengingat yang datang tidak seramai biasanya.

Kami ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para coiners dan droppers yang sudah datang, mulai dari yang ikut membantu menghitung bersama kami hingga yang sekedar mampir untuk memberikan dukungan moral – Heriyadi, Hedi, Rusli, Dimas, Ivan, Imam, Mudina, Febri & istri, Chichi, Riri & keluarga, Illiana, Sita, Tika, Belutz, dan Mbok Venus.

Banyak juga di antara droppers yang menitipkan koin mereka di booth Coin A Chance! yang berada di area pameran Nokia Suarakan Aksimu. Kami pastikan bahwa seluruh koin-koin tersebut tersimpan dengan aman. Tapi karena acara tersebut baru selesai jam 22.00 wib, maka jumlahnya belum sempat kami hitung. Namun jangan khawatir, penghitungan akan kami lakukan bersamaan dengan CCD#12 yang akan datang. Nah, jika teman-teman punya usulan untuk lokasi berikutnya, silahkan sampaikan ke kami ya!

Sekali lagi terima kasih, dan salam koin!