Minggu lalu, saya dan Nia meluncur dari FX, kami menengok Gempur dan keluarganya di Serua, Pamulang. Kami ingin tahu kondisi terakhir dari Gempur dan keluarganya, sekaligus melihat kemungkinan pemberian bantuan untuk Inti, kakak lelaki Gempur yang juga menunggak uang sekolah. Mengendarai Suzuki Cross Over milik salah satu coiner, Hafni Chen, yang berbaik hati menawarkan mobilnya untuk digunakan, kami membelah panasnya Jakarta menuju daerah Pamulang.
Jalanan relatif lancar siang itu, kami mengambil rute FX - Jl. Asia Afrika - Jl. Radio Dalam - Jl. Arteri Pondok Indah - Lebak Bulus. Setelah melewati terminal Lebak Bulus kami belok kiri ke arah Pondok Cabe. Mulai memasuki Lebak Bulus, cuaca yang tadinya cerah berubah mendung dan kemudian gerimis pun turun. Tak lama hujan lebat menyambut kami tepat saat kami melewati lapangan udara Pondok Cabe.
Hampir 2 jam berlalu sejak kami meninggalkan FX, lalu kami mulai memasuki jalanan penuh tantangan… tanya kenapa?
Jalanannya mulai berselang seling dari aspal licin ke bebatuan, sehingga mengharuskan kami untuk berkendara perlahan menghindari lubang dan genangan air. Banyaknya angkot juga mengharuskan kami untuk lebih sering mengerem, karena seringnya mereka berhenti mendadak. Tidak lama kami tiba di depan mushola biru dan kami tinggalkan mobil di sana. Kami berjalan menuju rumah gempur, kurang lebih 50 meter melewati basahnya tanah merah di bawah derasnya hujan.
Kami lihat seorang gadis kecil berdiri di depan pintu, ia pun segera masuk ke dalam sesaat dia melihat kami. Rumah Gempur dan keluarganya teramat sederhana (baca: sedikit kumuh), bagian teras masih berlantai tanah merah. Ada sebuah kursi kayu beralaskan duduk rotan yang sudah terlihat reot, di sebelahnya ada tumpukan besi dan kayu bekas. Rumah berdinding semi permanen ini dibangun berdempetan dengan rumah berikutnya, lebih mirip rumah petak.
Begitu kami memasuki pintu, kami disambut wanita kurus berusia hampir 40 tahun-an, berpakaian lusuh - kaos dan celana pendek yang warnanya pudar. “Itu Ibu Gempur,” kata Nia, dia menyambut kami dengan senyum sumringah. “Eh Mbak-Mbak, mari silakan masuk. Ayo Gempur, Rara, Prima salam sama Mbaknya,” katanya. Sesaat mataku menjelajah ke seluruh penjuru ruangan, sumpek, agak gelap, ruangan memanjang ke belakang ini paling berukuran hanya 5 x 10 meter saja, tanpa sekat sama sekali, lantainya hanya semen dan beratap asbes. Kami bayangkan betapa panasnya saat sinar matahari terik melanda, untungnya siang itu hujan jadi hawa sedikit dingin.
Kulihat seorang anak lelaki kurus berkulit gelap menghampiri, kuangkat tanganku, ia menggapainya dan menciumnya, “Gempur…” suaranya lirih menyebut namanya sendiri. Lalu kulihat dua anak lainnya, gadis kecil yang kulihat sebelumnya kini menghampiri, Rara namanya, melakukan hal yang sama seperti yang Gempur lakukan. Kemudian seorang balita, Prima, menghampiri kami sambil meniru gerakan kedua kakaknya.
Kami duduk di atas dinginnya semen, tepat di belakang tempatku duduk, seonggok kasur lusuh menyender ke dinding, cuma satu buah. Dalam hati aku berujar,”mana cukup untuk berenam, pasti ada yang harus tidur di atas dinginnya semen, entah siapa.” Lalu kami berbincang menanyakan kabar keluarga tersebut, soal keadaan sehari-hari, sekolah Gempur dan adik serta kakaknya, Inti.
Sebenarnya keluarga ini punya satu anak lelaki lagi, anak pertama mereka. Dia sudah tidak lagi tinggal di rumah itu, “Ikut kerja sama pamannya,” kata Ibu Gempur. Kakak pertama Gempur inilah satu-satunya anak di keluarga ini yang terpaksa putus sekolah saat ia duduk di kelas 3 SMP, tidak bisa ikut ujian akhir karena menunggak bayaran lebih dari satu tahun. Dalam hati aku berkata, “Andai CaC berdiri jauh sebelum sekarang, dia pasti bisa melanjutkan ke SMA.”
Sambil mendengar cerita Ibu Gempur, aku mengamati Gempur dan kedua adiknya bermain, sedangkan Inti setelah bangun tidur tadi dan menyalami kami, ia memilih duduk di pojok menyembunyikan dirinya, entah kenapa… Mereka main bersama dengan asyiknya, walaupun hanya menggunakan permainan seadanya. Lalu aku bertanya pada Gempur, “Pur, sebentar lagi kan ujian, kalau lulus kamu mau lanjutin ke SMP ga?” Ia menjawab lirih, malu, “Mau”. Aku bertanya kembali ke SMP mana ia mau melanjutkan sekolahnya dan Gempur bilang ia mau sekolah di SMP Negeri Dolang (baca: Dua Pamulang). Ibu Gempur pun menjelaskan lebih banyak mengenai SMP tersebut, bahwa tahun lalu untuk masuk ke SMP itu dikenakan uang pangkal sebesar Rp 3 juta. “Mmmmhhh angka yang besar bagi keluarga ini,” gumamku.
Tak lama aku bertanya dimana letak SMP Negeri Dolang ini, lalu Ibu Gempur menanggapi bahwa kami harus melewati jalan besar yang agak jauh dari sini, mungkin sekitar 1,5 km. Lalu ia memastikan pada Gempur, “Pur, gimana jalannya?” Dengan gesit Gempur menjawab, “Lewat belakang sini cepet, Bu. Nyebrang sawah dulu…” Aku dan Nia bertatapan, lalu tertawa keras. Ibu Gempur menyadari apa yang kami tertawakan, lalu setengah malu berkata pada Gempur, ” Masa mobil lewat sawah, Pur? Gimana kamu ini!”. Gempur pun kebingungan, tersadar akan ucapan sang Ibu ia hanya bisa tertunduk malu… “Betapa polosnya anak ini,” tawaku dalam hati.
Perbincangan pun berlanjut ke hobi dan cita-cita Gempur. Ia senang sekali main sepak bola dan itu pun yang membawa ia memiliki cita-cita sebagai pemain bola. “Aku ingin bisa main di klub bola FC Barcelona!” kata Gempur. Waktu ditanya siapa pemain sepak bola kesukaannya di FC Barcelona, Gempur menjawab antusias, “Lionel Messi…” Tanpa mau membunuh cita-cita Gempur, aku bertanya seyakin apa ia bisa mencapai cita-cita itu. Aku ingin ia berpikir realistis, tentu selain niat banyak sekali jalan yang harus ia perjuangkan untuk bisa menjadi pemain sepak bola kelas dunia. Kemudian aku kembali menekankan, bila ia harus yakin dan punya jalan agar bisa menjadi pemain bola seperti Lionel Messi. Lalu aku pancing Gempur, “Kalau tidak bisa jadi pemain bola di FC Barcelona, kamu mau jadi apa?”. Setelah berpikir sebentar, ia menjawab “Mau jadi pengusaha bola”. Kami semua tersenyum bangga…
Kunjungan singkat siang itu telah membawa aku ke sebuah dunia yang berbeda. Dunia penuh keterbatasan bagi seorang anak sekecil Gempur tapi tetap dapat kulihat semangat di mata kecilnya. Mungkin ia belum bisa membayangkan betapa sulitnya untuk mencapai cita-citanya itu, tapi biarlah… dia akan tahu sendiri nanti. Namun yang jelas, terlepas dari usianya yang masih dini, ia masih punya mimpi. Mimpi memacu kita untuk dapat mengarungi kerasnya hidup dan dari mimpi sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin…





9 Comments
sedih bacanyaaaaa ;(
ni keyboard ketetesan air rusak ga sih?!
semoga gempur mengerti akan usaha CaC.. semoga gempur bisa menjadi peka dan menjadi pemuda yang berbakti..
Ayo coiners semangat, mbak utk wilayah Bandung dah ada collectornya belum ?
hmm.. musti rajin2 ngumpulin koin nih.. dan sapa tau, masih ada yang lebih mbutuhin seperti gempur ituh, jadi bisa lanjut sekolah yang lebih tinggi
jia you!
*dukung Gempur untuk perbaikan sepakbola Indonesia*
Mas Ludvy,
Gimana kalo Mas aja yang bantu jadi Coiners wilayah Bandung? : )
*ngarep niiy*
Dengan senang hati, boleh request Mbak ?. Tolong buatin brosur Coin A Change di PDF selembar aja (nanti sy yg perbanyak) nanti sy n temen2 yg nyebarin. Kebetulan rumah sy Di Depok klo dah terkumpul nanti tgl didrop ke Jkrta waktu sy pulang.
@Ludvy: Ok ntar aku bikinin dulu yah. Secepatnya aku kabarin. Maaf telat balas, soalnya aku baru sempet check website CaC. …
Terima Kasih atas Responnya. Sy siap bantu,jika sdh ada brosurnya nanti bersama teman2 di Bandung pelan2 menggalang coiners, kebetulan sy juga punya teman2 Guru di Jawa Barat, mungkin mereka juga dapat membantu menyebarkannya ke para muridnya.
Terima Kasih.