Author Archive

“Give your coins a chance to do good”

Posted on Sunday, May 24th, 2009 at 10:56 pm

snapshot-2009-05-24-22-31-04Itulah judul artikel di The Jakarta Post yang saya baca pagi ini. Rupanya Mariani (reporter)  & Ricky (photographer) dari TJP yang kemarin sempat mampir di CCD#5 untuk men-drop koin, sekaligus mewawancarai kami, membuktikan perkataan mereka. “Mbak, ceritanya dimuat besok yah! Nanti tolong dilihat saja…” kurang lebih begitulah kata-kata yang terlontar dari mulut Mari.

Betapa senangnya saya mendapati cerita tentang CCD sekaligus inti dari kegiatan CaC terpampang tepat di bagian bawah halaman kedua, pada koran berbahasa Inggris itu. Rupanya kerja keras kami selama 6 bulan ini perlahan menunjukkan hasil & mendapatkan lebih banyak perhatian tidak hanya dari teman-teman sekitar, tapi juga kalangan media. Berita-berita tentang CaC di media dapat dilihat di sini.

Tentunya, nama CaC yang semakin dikenal tak lepas dari andil para coiners, droppers, supporters & juga donor yang telah sangat antusias mendukung kami, baik dalam menyebarluaskan informasi dari kegiatan CaC & juga berpartisipasi aktif dalam pengumpulan koin.

Untuk itu, mari terus berjuang bersama mengumpulkan lebih banyak koin untuk beri lebih banyak anak kesempatan untuk melanjutkan sekolahnya.

Baca artikel CaC selengkapnya di TJP online.

Salam koin!

“Mobil kok lewat sawah, Pur?”

Posted on Thursday, April 30th, 2009 at 11:24 am

Minggu lalu, saya dan Nia meluncur dari FX, kami menengok Gempur dan keluarganya di Serua, Pamulang. Kami ingin tahu kondisi terakhir dari Gempur dan keluarganya, sekaligus melihat kemungkinan pemberian bantuan untuk Inti, kakak lelaki Gempur yang juga menunggak uang sekolah. Mengendarai Suzuki Cross Over milik salah satu coiner, Hafni Chen, yang berbaik hati menawarkan mobilnya untuk digunakan, kami membelah panasnya Jakarta menuju daerah Pamulang.

Jalanan relatif lancar siang itu, kami mengambil rute FX - Jl. Asia Afrika - Jl. Radio Dalam - Jl. Arteri Pondok Indah - Lebak Bulus. Setelah melewati terminal Lebak Bulus kami belok kiri ke arah Pondok Cabe. Mulai memasuki Lebak Bulus, cuaca yang tadinya cerah berubah mendung dan kemudian gerimis pun turun. Tak lama hujan lebat menyambut kami tepat saat kami melewati lapangan udara Pondok Cabe.

menuju-rumah-gempurHampir 2 jam berlalu sejak kami meninggalkan FX, lalu kami mulai memasuki jalanan penuh tantangan… tanya kenapa? :P Jalanannya mulai berselang seling dari aspal licin ke bebatuan, sehingga mengharuskan kami untuk berkendara perlahan menghindari lubang dan genangan air. Banyaknya angkot juga mengharuskan kami untuk lebih sering mengerem, karena seringnya mereka berhenti mendadak. Tidak lama kami tiba di depan mushola biru dan kami tinggalkan mobil di sana. Kami berjalan menuju rumah gempur, kurang lebih 50 meter melewati basahnya tanah merah di bawah derasnya hujan.

Kami lihat seorang gadis kecil berdiri di depan pintu, ia pun segera masuk ke dalam sesaat dia melihat kami. Rumah Gempur dan keluarganya teramat sederhana (baca: sedikit kumuh), bagian teras masih berlantai tanah merah. Ada sebuah kursi kayu beralaskan duduk rotan yang sudah terlihat reot, di sebelahnya ada tumpukan besi dan kayu bekas. Rumah berdinding semi permanen ini dibangun berdempetan dengan rumah berikutnya, lebih mirip rumah petak.

Begitu kami memasuki pintu, kami disambut wanita kurus berusia hampir 40 tahun-an, berpakaian lusuh - kaos dan celana pendek yang warnanya pudar. “Itu Ibu Gempur,” kata Nia, dia menyambut kami dengan senyum sumringah. “Eh Mbak-Mbak, mari silakan masuk. Ayo Gempur, Rara, Prima salam sama Mbaknya,” katanya. Sesaat mataku menjelajah ke seluruh penjuru ruangan, sumpek, agak gelap, ruangan memanjang ke belakang ini paling berukuran hanya 5 x 10 meter saja, tanpa sekat sama sekali, lantainya hanya semen dan beratap asbes. Kami bayangkan betapa panasnya saat sinar matahari terik melanda, untungnya siang itu hujan jadi hawa sedikit dingin.

Kulihat seorang anak lelaki kurus berkulit gelap menghampiri, kuangkat tanganku, ia menggapainya dan menciumnya, “Gempur…” suaranya lirih menyebut namanya sendiri. Lalu kulihat dua anak lainnya, gadis kecil yang kulihat sebelumnya kini menghampiri, Rara namanya, melakukan hal yang sama seperti yang Gempur lakukan. Kemudian seorang balita, Prima, menghampiri kami sambil meniru gerakan kedua kakaknya.

Kami duduk di atas dinginnya semen, tepat di belakang tempatku duduk, seonggok kasur lusuh menyender ke dinding, cuma satu buah. Dalam hati aku berujar,”mana cukup untuk berenam, pasti ada yang harus tidur di atas dinginnya semen, entah siapa.” Lalu kami berbincang menanyakan kabar keluarga tersebut, soal keadaan sehari-hari, sekolah Gempur dan adik serta kakaknya, Inti.

Sebenarnya keluarga ini punya satu anak lelaki lagi, anak pertama mereka. Dia sudah tidak lagi tinggal di rumah itu, “Ikut kerja sama pamannya,” kata Ibu Gempur. Kakak pertama Gempur inilah satu-satunya anak di keluarga ini yang terpaksa putus sekolah saat ia duduk di kelas 3 SMP, tidak bisa ikut ujian akhir karena menunggak bayaran lebih dari satu tahun. Dalam hati aku berkata, “Andai CaC berdiri jauh sebelum sekarang, dia pasti bisa melanjutkan ke SMA.”

gempur-adik-2Sambil mendengar cerita Ibu Gempur, aku mengamati Gempur dan kedua adiknya bermain, sedangkan Inti setelah bangun tidur tadi dan menyalami kami, ia memilih duduk di pojok menyembunyikan dirinya, entah kenapa… Mereka main bersama dengan asyiknya, walaupun hanya menggunakan permainan seadanya. Lalu aku bertanya pada Gempur, “Pur, sebentar lagi kan ujian, kalau lulus kamu mau lanjutin ke SMP ga?” Ia menjawab lirih, malu, “Mau”. Aku bertanya kembali ke SMP mana ia mau melanjutkan sekolahnya dan Gempur bilang ia mau sekolah di SMP Negeri Dolang (baca: Dua Pamulang). Ibu Gempur pun menjelaskan lebih banyak mengenai SMP tersebut, bahwa tahun lalu untuk masuk ke SMP itu dikenakan uang pangkal sebesar Rp 3 juta. “Mmmmhhh angka yang besar bagi keluarga ini,” gumamku.

Tak lama aku bertanya dimana letak SMP Negeri Dolang ini, lalu Ibu Gempur menanggapi bahwa kami harus melewati jalan besar yang agak jauh dari sini, mungkin sekitar 1,5 km. Lalu ia memastikan pada Gempur, “Pur, gimana jalannya?” Dengan gesit Gempur menjawab, “Lewat belakang sini cepet, Bu. Nyebrang sawah dulu…” Aku dan Nia bertatapan, lalu tertawa keras. Ibu Gempur menyadari apa yang kami tertawakan, lalu setengah malu berkata pada Gempur, ” Masa mobil lewat sawah, Pur? Gimana kamu ini!”. Gempur pun kebingungan, tersadar akan ucapan sang Ibu ia hanya bisa tertunduk malu… “Betapa polosnya anak ini,” tawaku dalam hati.

Perbincangan pun berlanjut ke hobi dan cita-cita Gempur. Ia senang sekali main sepak bola dan itu pun yang membawa ia memiliki cita-cita sebagai pemain bola. “Aku ingin bisa main di klub bola FC Barcelona!” kata Gempur. Waktu ditanya siapa pemain sepak bola kesukaannya di FC Barcelona, Gempur menjawab antusias, “Lionel Messi…” Tanpa mau membunuh cita-cita Gempur, aku bertanya seyakin apa ia bisa mencapai cita-cita itu. Aku ingin ia berpikir realistis, tentu selain niat banyak sekali jalan yang harus ia perjuangkan untuk bisa menjadi pemain sepak bola kelas dunia. Kemudian aku kembali menekankan, bila ia harus yakin dan punya jalan agar bisa menjadi pemain bola seperti Lionel Messi. Lalu aku pancing Gempur, “Kalau tidak bisa jadi pemain bola di FC Barcelona, kamu mau jadi apa?”. Setelah berpikir sebentar, ia menjawab “Mau jadi pengusaha bola”. Kami semua tersenyum bangga…

Kunjungan singkat siang itu telah membawa aku ke sebuah dunia yang berbeda. Dunia penuh keterbatasan bagi seorang anak sekecil Gempur tapi tetap dapat kulihat semangat di mata kecilnya. Mungkin ia belum bisa membayangkan betapa sulitnya untuk mencapai cita-citanya itu, tapi biarlah… dia akan tahu sendiri nanti. Namun yang jelas, terlepas dari usianya yang masih dini, ia masih punya mimpi. Mimpi memacu kita untuk dapat mengarungi kerasnya hidup dan dari mimpi sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin…

Kisah Muko & Teman Baru (Bagian 1)

Posted on Thursday, April 16th, 2009 at 11:49 am

Saat aku bangun, aku menemukan diriku berada di antara teman-temanku dan tampaknya sebagian dari mereka pun sudah mulai menggeliat bangun. Tadi malam aku bermimpi, aku akan pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Aku tidak tahu dimana tepatnya, tapi yang pasti di dalam mimpiku aku merasa sangat senang sekali.

Ngomong-ngomong, aku bingung siapa sebenarnya aku, aku ingin sekali mempunyai nama panggilan. Tapi yang sering aku dengar, mereka memanggilku dan teman-temanku dengan satu nama saja. Masa cuma satu nama saja, bingung rasanya tiap kali mereka menyebut nama itu, siapa dari kami yang mereka maksud. Ingin sekali aku punya nama panggilan sendiri.

Kembali ke saat aku terbangun dari mimpiku, sebetulnya aku tidak tahu saat ini di luar sana apakah sudah pagi atau malam. Karena sudah sangat lama sekali, aku dan teman-temanku berada di sini, gelap. Kadang aku bisa dengar suara-suara di luar sana, cukup lama aku bisa mendengar suara-suara itu, namun tiba-tiba senyap, sunyi. Kalau sudah sepi biasanya aku menjadi bosan dan tertidur. Saat aku bangun, aku bisa mendengar suara-suara itu lagi, kadang suaranya seperti orang sedang berbincang-bincang, kadang tertawa keras, kadang aku hanya bisa dengar suara kriiiing…kriiiing… berkali-kali. Aku ingin sekali tahu ada apa di luar sana, siapa yang sering aku dengar suaranya itu. Di sini sepi… yah walaupun aku selalu berada bersama teman-temanku, mereka jarang sekali bicara, hampir tidak pernah malah.

Saat ini yang kudengar hanya suara-suara kecil yang sedang berbincang, singkat… lalu tak kudengar lagi. Aaawwwhhh… aku mulai ngantuk lagi, mataku terasa berat, mungkin sebaiknya aku tidur supaya aku bisa mimpi yang indah lagi seperti mimpiku sebelumnya. Tiba-tiba aku dengar suara kaki dari kejauhan, lama-lama terdengar jelas sekali… lalu tak kudengar lagi. Yah… sepi lagi!

Aduuuh!!! Terang sekali!! Aku bingung kenapa tiba-tiba begitu banyak cahaya menyinari, teman-temanku juga bertanya-tanya sinar apa itu. Lalu saya melihat bayangan hitam mendekat… ya ampun… apa itu yah? Lalu perlahan dapat kulihat seraut wajah cantik. Waaaahhh… cantiknya! Siapa dia yah? Dia kemudian menggapai aku dan teman-temanku, menarik kami keluar dari… apa itu yah? Bentuknya seperti kotak terbuat dari kayu dan ketika aku melihat sekeliling, aku melihat banyak sekali orang-orang sedang… sedang apa yah? Ada yang sedang menaruh kedua tangannya di atas benda berbentuk kotak persegi penuh dengan tombol, ada beragam huruf dan angka di sana, mata mereka melihat kotak persegi lainnya dan kulihat cahaya terpancar di sana, seperti gambar, lalu kulihat rangkaian kata-kata, saat menekan tombol, aku bisa mendengar bunyi klek..klek..klek.. Di sudut lain aku melihat dua orang sedang berbincang, aku kenal suara mereka. Oh jadi seperti itu wajah mereka…

Lalu wanita cantik yang tadi mengambil kami, memasukkan kami ke sebuah benda, besar sekali… saking besarnya aku tidak bisa lagi melihat orang-orang tadi… uuuhhh padahal aku ingin sekali melihat benda seperti apakah yang selalu mengeluarkan bunyi kring..kring itu. Aduh di sini sesak sekali dan selalu bergoyang-goyang… aku terus bertubrukkan dengan teman-temanku. Kami mau dibawa kemana? atau mungkin mimpiku tadi malam akan terbukti hari ini… aah senangnya!

“Ke FX Pak!,” kata wanita tadi. Aku bergumam, “mahluk apa FX itu yah…” “FX itu mal!,” teriak sebuah suara. Aku kaget setengah mati dibuatnya. Tak lama kulihat sesosok mahluk muncul, dia berwarna putih dengan garis-garis hitam di sekujur tubuhnya, tapi yang paling jelas terlihat adalah garis-garis hitam dimukanya. Aku berkata dalam hati, kok mukanya terlihat kotor sekali. “Hi! Aku Muko - Muka Kotor,” katanya. Hahaha nama yang lucu, cocok sekali dengan apa yang barusan aku katakan. “Aku… aku…,” kataku lirih, aku bingung aku harus menyebut namaku apa, karena semua teman-temanku bernama sama. “Aku tahu mereka memanggilmu apa. Kalau aku jadi kamu pasti aku juga bingung mau menyebut diri sendiri apa,” kata Muko menenangkanku.

“Muko, katamu tadi kita mau ke mal yah? Lalu wanita cantik yang membawa kita ini siapa?” tanyaku penasaran. Muko menjawab bahwa mal itu adalah bangunan besar mewah, tempat dimana banyak sekali barang bagus dan mahal dijual. Selain ada toko-toko atau butik, Muko bilang ada juga restoran, cafe, tempat dimana orang dapat makan, minum atau sekedar duduk-duduk saja.

“Namanya Nia,” kata Muko. “Dia itu pemilikku, aku sudah lama sekali ikut dengannya. Malah aku pernah diajak ke luar negeri, ke Kokok kalau tidak salah,” tambah Muko tertawa ceria. Tapi Muko bilang yang membawa dia ke Kokok bukan Nia, tapi wanita cantik lainnya, Hanny - teman baik Nia. “Sekarang giliran kamu yang jalan-jalan!” teriak Muko. Wah jalan-jalan, aku tidak tahu apa itu jalan-jalan, tapi melihat ekspresi Muko yang antusias, aku tahu jalan-jalan itu pasti menyenangkan. “Kita hampir sampai…” kata Muko. “Eh tapi sebaiknya kamu keluar dari situ, naik saja ke atas kepalaku, supaya kamu bisa lihat lebih jelas ke luar sana,” perintah Muko dan aku langsung memenuhinya.

Aku lihat Nia bergerak turun dari sebuah benda berwarna biru ini, ia bergegas masuk ke dalam gedung yang besar sekali, sampai-sampai aku tidak bisa lihat ujung gedung ini. Kemudian kudengar, ‘teeet teeeeeet’ nyaring berbunyi. Orang berpakaian serba biru memegang tongkat sedang mendekatkan tongkat itu ke tempat dimana kami berada. Lalu ia bilang, “Silakan bu!”. Lalu tiba-tiba kulihat pintu itu bergeser sendiri, seolah membiarkan kami masuk ke dalam gedung ini. “Wah dingin!!!” kataku pada Muko. Muko bilang itu adalah hawa dingin yang dikeluarkan benda bernama AC. “Nama yang bagus,” kataku dalam hati. Andai aku juga bisa punya nama sebagus itu…

Sambil coba menahan keseimbangan berada di atas kepala Muko, aku melihat sekeliling gedung itu. Banyak sekali aku lihat lampu-lampu berwarna-warni, kursi dan meja di sisi-sisi. Aku bahkan bisa mencium aroma lezat, “Itu aroma makanan & minuman dari restoran & cafe di sini,” jelas Muko. Aku pasti senang sekali bila bisa menikmati makanan dan minuman itu. Lalu kudengar “Mau pesan apa, Mbak?” kata suara itu. “Hot tea & kun kaya toast satu yah Mbak,” ujar Nia. Kulihat Nia mengeluarkan benda itu dari dompetnya, persegi, berwarna kebiruan dan tipis sekali, ada gambar orang di atasnya. “Uangnya lima puluh ribu yah Mbak, nanti kembalian dan pesanannya saya antar,” kata suara itu lagi. Lalu Nia memilih duduk di samping, menempatkan aku, Muko & teman-temanku di atas benda berwarna putih.

“Aku dengar kita mau pergi jauh hari ini,” kata Muko saat aku menuruni kepalanya. “Mau kemana?” tanyaku. “Ke Serua, Pamulang,” jawab Muko. Muko kemudian menjelaskan bahwa ia pernah sekali kesana dengan Nia dan Hanny juga teman-temanku. Perjalanan yang jauh dan melelahkan menurut Muko, tapi ia sangat senang waktu itu karena ia bisa menyaksikan sebuah kegembiraan seseorang. Ia tidak menyebut siapa dan aku tidak mau bertanya. Aku ingin menyimpan kejutan ini untuk diriku sendiri.

Tak lama kudengar suara seseorang wanita lagi, “Sorry telat nih, udah lama nunggu?” katanya. Lalu si empunya suara dan Nia berbincang dengan asyiknya. Cukup lama kami menguping pembicaraan mereka, ternyata wanita yang tadi datang bernama Indri, tidak begitu terdengar jelas apa yang mereka perbincangkan. Tapi yang aku dengar mereka masih harus menunggu seseorang lagi, entah siapa. Sementara mereka berbincang, aku dan Muko pun sibuk bertukar cerita.

“Oh lo udah sampai di lantai 3, yah udah kita kesana deh,” kata Nia. Aku bergegas kembali naik ke kepala Muko untuk melihat arah mereka pergi. Dengan tergesa Nia dan Indri merapikan barang-barang yang mereka bawa, kemudian mampir di sebuah toko, yang kata Muko toko itu menjual Muffin. Entah apa Muffin itu, aku tidak mau banyak bertanya, takut dibilang kuper…

Selesai membeli sekotak Muffin, Nia dan Indri menaiki benda berwarna hitam persegi dengan garis kuning di ujungnya dan mereka banyak sekali, bergerak naik membawa mereka ke lantai berikutnya. Setelah itu mereka kembali masuk ke kotak besar dengan kaca mengelilingi. Dari tempatku berdiri, aku dapat melihat benda-benda di luar sana perlahan mengecil, aku seolah terbang… iiiiiihhhhh geli rasanya.

Keluar dari kotak kaca tadi, mereka menuju satu tempat dimana kulihat ada tulisan Bianco di kaca. Kemudian seorang wanita manis berambut kepirangan menghampiri, “Hi Hafni! Kenalin ini Indri, dia yang akan nyetir mobil lo hari ini. Thanks banget yah udah mau minjemin mobil lo,” sambut Nia. “Gw seneng bisa bantu! Sayang yah hari ini gw ga bisa ikutan, abis harus nungguin syuting di salon gw sih. Oh iya ini kunci mobilnya, terus…” jelas Hafni. Aku tidak dengar lagi pembicaraan selanjutnya, karena pijakanku terlepas dan aku jatuh terjerembab. Kulihat Muko asyik menertawaiku… aku cuma bisa nyengir malu.

Cukup lama aku bisa kembali ke atas kepala Muko, karena benda tempat aku, Muko & teman-temanku berada bergoyang kencang. Namun tak lama keadaan kembali normal, “Loh kok gelap Ko?” tanyaku, Muko hanya bisa menggeleng dan aku kembali jatuh terjerembab karena gelengan kepala Muko. Lagi, Muko kembali tertawa keras sambil bilang, “Maaf ga sengaja”. Lalu kudengar suara aneh, bruummm…bruummm… sama seperti suara benda biru yang dinaiki Nia tadi. Aku kembali naik ke kepala Muko, perlahan aku melihat cahaya di ujung sana. “Aduh silau… cahaya apa itu Muko?” teriakku pada Muko.

Bersambung ke bagian 2…

—-

Dear Coiners,

Mulai hari ini, para coiner bisa membaca serial kisah pengalaman Muko dan teman barunya yang diceritakan berdasarkan kisah nyata. Seperti yang sudah dibaca di atas teman baru Muko ingin sekali punya nama panggilan. CaC mengundang para coiner untuk membantu mengusulkan nama untuk teman baru Muko. Sebagai gambaran, teman baru Muko bertubuh kecil… lebih kecil dari Muko, berwarna perak, ditubuhnya tercetak gambar dan susunan tiga angka.

Untuk nama yang paling menarik akan selanjutnya dipakai sebagai nama panggilan teman baru Muko. Ditunggu usulan namanya dan langung post aja di comment yah!